Rabu, 19 September 2018

Menengok Perempuan-perempuan Laporo Di Pasar Mardika Ambon

Jika dulu sekali perempuan dianggap sebatas pada pendamping pria, dan tugasnya pun terbatas hanyadi dapur, sumur, dan di kamar, begitu yang saya sering dengar ketika duduk bercerita dengan beberapa komunitas kecil yang ada.Bahkan ungkapan dapur, sumur, dan kamar, sering sekali menjadi lelucon di kalangan pria. Namun kini, semua berbalik arah, perempuan telah mendapatkan porsi yang sama dengan pria atau dalam bahas kerennya adalah women emancipation.

Menengok Perempuan-perempuan Laporo Di Pasar Mardika Ambon

Sederhananya, women emancipation adalah keseteraan jenis dengan kata lain perempuan dan wanita mempunyai hak yang sama-sama bekerja maupun mengurus anak, dan ini hampir terjadi di seluruh pelosok dunia, Indonesia hingga kota kecil yang ada Indonesia bagian timur semacam Ambon, misalnya.

Jika kita berkunjung di salah satu pasar yang ada di kota Ambon lebih tepatnya lagi di pasar Mardika Ambon. Kita akan menemukan sebagian besar pedagang kali lima yang ada di area tersebut adalah perempuan. Apalagi jika masuk di area terminal Mardika Ambon yang kini "disulap" menjadi pasar, adalah perempuan.Dan uniknya kebanyakan perempuan yang ada di pasar terminal Mardika adalah berasal dari satu suku yaitu laporo.

Laporo merupakan salah satu suku yang berasal dari pulau Sulawesi Tenggara ini memang sudah lama berada di pulau Ambon untuk berdagang, mulanya sih para pria yang lebih dulu pergi merantau dan berdagang, lalu seiring waktu para perempuan ikut dan berdagang.

Tak banyak berbeda dengan cara pria Latporo berdagang, hanya saja ketika perempuan dari suku Laporo ini ialah berdagang akan mengajak anak mereka, jadi tak heran jika kita akan melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di area pasar terminal Mardika dengan bebas.

Bayangkan ketika kita lagi meyakinkan pembeli untuk membeli  dagangan kita dan di sisi lain kita harus sering menggelengkan kepala kita beberapa saat hanya untuk mengecek anak kita yang sedang berlarian kesana- ke mari dengan bebasnya, Apakah bisa?Sulit sekali, bukan! Dan mereka perempuann Laporo sangat ahli dalam menangani hal yang cukup sulit itu untuk di lakukan pria laporo. Bejualan dan menjaga anak dalam waktu bersamaan.

Bahkan ketika selesai berjualan dipasar, mereka perempuan Laporo harus mempersiapkan makanan untuk makan malam keluarganya, pula mengajari anak mereka belajar di rumah ketika malam hari. Luar biasa bukan?

Bagi saya, ini adalah hal yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan kebanyakan pria Laporo, berdagang, mengasuh anak di pasar maupun dirumah,mengajari anak belajar, hingga mengurusi kebutuhan keluarga.

Mungkin ada baiknya, bolehlah sekali-kali kita berkunjung di pasar terminal Mardika Ambon dan sekadar bercengkrama dengan perempuan-perempuan Laporo itu. Siapa tahu, kamu yang masih jomblo bisa bertemu atau di jodohkan dengan perempuan tangguh dari Laporo, opssss.. [ ]

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Comments


EmoticonEmoticon