Tampilkan postingan dengan label Batukel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batukel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Maret 2021

"MENTANG-MENTANG JOMBLO, TIDURNYA JAM 3 DINI HARI"

Hallo Sobat Millenial yang jomblo, masih doyan nongkorong dan bodo amat dengan masa depan (Sebab masa depan masih terlalu pagi untuk dipikir-pikirkan). Saya ingin memulai dengan kisah tentang sahabat saya, yang ternyata baru saja putus dan banyak hal yang kemudian ia curhatkan.

Baginya, setelah menjadi jomblo lagi (Aih, sakit mendengarnya, wkwkwkw) ada pergeseran budaya yang bergulat di dalam diri teman saya. Salah satu yang ia sebutkan adalah pola tidurnya yang semakin lama dan budaya begadangnya yang semakin menggila. Dulu, katanya sewaktu masih pacaran, tidurnya paling mentok jam 1 malam dengan salam terakhir yang kemudian ia begitu kangenin sekarang ini, aih: "Sudah kamu tidur duluan, besokkan kerja" "Jangan begedang, yah! nanti sakit lagi" Hallo, jangan baper dulu, yah!. Kita kembali kecurhat teman saya.

Jadi setelah putus dengan pacarnya, teman saya kemudian menjadi lebih sering tidur yang semakin sulit saat malam. Dan entah mengapa, begadang kemudian menjadi begitu akrab dengannya. Hari-harinya lebih panjang saat malam, dan pagi menjadi begitu pendek. Ia kemudian lebih senang deng) malam. Dengan kopi di tangannya dan rokok yang ia selipkan di tangan satunya lagi, malam menjadi lebih khusyuk dan abadi dalam kesepian. Aduh :D Apa yang menimpa teman saya itu, saya kira pun adalah fenomena yang kemungkinan besar dialami bagi siapa saja yang baru putus.

Tapi, tahukah kamu, kalau ternyata apa yang dialami teman saya itu pun dialami oleh hampir sejuta umat jomblo di seluruh dunia. Dalam sebuah riset yang pernah saya baca, kaum jomblo sangat rentan dengan kebiasaan bedagang. Dan kebiasaan ini, lebih banyak diidap oleh kaum perempuan. ini riset lho. lantas bagaimana dengan laki-laki? Emmm... sejauh yang saya baca, laki-laki pun tak bisa mengelak dari fenomena ini juga, lelaki punya potensi yang sama dengan perempuan meski jumlah presentasenya masih jauh lebih sedikit ketimbang perempuan. Well, apa sih jawaban ilmiah yang bisa membongkar, bagaimana fenomena ini bisa terjadi?.

Dalam artikel yang saya baca, 75% mengapa jomblo lebih sering begadang dikerenakan gawai yang ia miliki masih tetap menyala meski sudah larut malam, dengan bermain hp, besar kemungkinannya si pemiliknya susah untuk tidur, entah sekadar nonton YouTube, baca komentar di Facebook atau mungkin kepoin status mantan di IG, adalah sederetan alasan yang seringkali dilakukan. Hal tersebut jauh berbeda bila kamu punya pasangan, tidur akan lebih cepat, sudah ada teman ngobrol dan bisa saling mengingatkan untuk tidur lebih awal, atau meminjam bahasa teman saya yang akhirnya sukses bikin dia rindu-rinduan "Jangan bedagang yah, nanti sakit, lagi". Sedangkan, 25% lainnya dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa fenomena susah tidur dikarena berbagai hal lainnya. Entah sedang mengalami stres ringan, insomnia dan aktor lingkungan. jadi kesimpulannya, dengan menjomblo seseorang cenderung lebih mudah untuk begadang. Hal yang bisa memutuskan mata rantai ini hanya satu, carilah kesibukan lain seperti bekerja.

Fokus kita hanya untuk bekerja, tidak yang lain. Dengan bekerja, waktu dan tenaga kita hanya pada satu hal. biasanya kita akan cenderung untuk pulang dan memilih tidur saat pulang ketimbang beraktivitas yang lain. Selain itu, sebenarnya, ada satu cara lagi agar kita bisa menghindari diri dari begadang. Seperti kata Bang Haji Roma Irama
"Begadang jangan begadang, bila tiada artinya. bedagang boleh saja, bila ada perlunya". itu adalah pesan paling penting dan bijak dalam bait-bait lagu bang haji, sobat Millenial [ ]

Sabtu, 27 Juli 2019

Ciutan Mesra Di Bilik Toilet Umum

Seberapa sering kamu menggunakan toilet umum yang ada di terminal, pom bensin ataupun di supermarket? Mungkin jabawannya tidak sesering seperti dirumah sendiri yang nyaman, tidak ada yang mengetuk-ngetuk pintu kalau pun ada bisa langsung dibentak.

“Woy Bego !! ini aku (Sebut saja namanya pirno) tak tahu apa lagi asik didalam”

Eitzz! Jangan salah paham dulu soal asik dia lagi ngapain itu masalah dia, mau main sabun, main game hingga ngopi di toilet pun tak ada yang larang toh dia hak si pirno juga kan.
Ok kita lewatkan masalah main sabun!!

Nyamannya kita menggunakan toilet dirumah memang gitu tak perlu antri panjang kalaupun adek mau masuk duluan dan kita udah kebelet tinggal ngomong aja 
"Dek ! Kaka dulu ya, udah mau keluar nih !".
Nyaman dan sungguh nyaman berada di toilet rumah sendir !

Tapi kamu pasti kan sesekali menggunakan toilet umum pas lagi di jalan dan udah kebelet pipis atau eek, atau jangan-jangan kamu langsung menuju tembok-tembok gang sempit atau malah dibawah lampu jalan kota?
Semoga saja tidak !!!
Karena itu.................

Ok ! Berbicara soal toilet umum (Maklum jika postingan ini ngawur) ada yang menarik semisal coretan-coretan tinta pena, spidol ataupun pensil di sudut-sudut ruangan hingga menghiasi seisi ruangan toilet itu sendiri

Semisal:
“Aku cinta kamu ani”
“Cintaku berakhir seiring dengan kotoran tai yang keluar ini”
“Hubungi dengan nomor ini 0888xxxxx Jika kamu sedang bosan”
"Hingga tulisan-tulisan yang paling mengundang birahi pun ada loh" !! 

Ciutan Mesra Di Bilik Toilet Umum

Rupanya lembaran-lembaran kertas ataupun media sosial itu tidak cukup mampu untuk menampung rasa  yang cukup banyak untuk di ungkapkan dalam bentuk tulisan-tulisan mesra, hingga tulisan-tulisan mesra itu berlarian dan menempel pada dinding-dinding toilet umum

Jadi buat kamu nih yang punya hobi membaca koran ataupun majalan di dalam wc bisalah mampir di toilet umum dan menikmati sajian tulisan yang penuh amarah, cinta ataupun kerinduan pada kekasih !

Nah ! Menurut kamu kira-kira siapa yang paling memungkinkan untuk nulis di dinding-dinding toilet umum?
  1. Pelajar
  2. Mahasiswa
  3. Orang Kantoran
  4. Pedagang Kaki Lima, Tukang Becak atau Buruh Serabutan
Note: PKL, Tukang Becak atau Buruh Serabutan Jarang Menggunakan Pena


Terlepas dari pertanyaan di atas dan itu bisa kamu jawab sendiri ataupun di kolom komentar nanti, Sadar atau tidak sadar, kita memang susah menyampaikan perasaan pada orang yang kita anggap tepat entah itu cinta ataupun benci yang pastinya kita sulit jujur pada diri sendiri dan akhirnya berakhir pada tulisan-tulisan yang berserakan di kertas, status di sosial media yang tidak menyebutkan siapa dia hingga pada di tempat yang kita anggap paling kotor sekalipun yaitu toilet.

Jumat, 12 Juli 2019

Hal Yang Sulit Didapatkan Ketika Tidak Ada Pekerja

Mempunyai pekerjaan yang layak adalah hal mutlak yang harus dimiliki saat ini karena konon katanya tanpa adanya pekerjaan yang layak maka akan berimbas pada beberapa hal seperti jodoh yang terlambat datang, perut yang jarang di isi dengan kudapan-kudapan nikmat hingga kenyaman berada dirumah mulai berkurang seiring pertanyaan yang kian datang tentang sudah adakah pekerjaan yang layak engkau dapatkan?

Memang konyol jika 3 poin yang saya maksudkan di atas sangat bergantung pada pekerjaan yang layak tapi seperti itulah yang biasa terjadi di ruang lingkup sosial pada umumnya, dan sejujurnya ada hal mendasar mengapa saya menyebutkan pekarjaan yang layak menjadi tolak ukur agar meraih jodoh, masalah perut, hingga kenyamanan berada dirumah menjadi taruhan.

Hal ini sebenarnya berangkat dari pengalaman saya pribadi dan beberapa teman yang tidak sengaja bercerita dan mengeluh tentang sulitnya mencari perkerjaan yang layak dan imbas dari ketidak adaan pekerjaan atau bahasa kasarnya adalah pengangguran.

3 Hal Yang Sulit Di Dapat Ketika Tidak Ada Pekerjaan Yang layak

Hal Yang Sulit Didapatkan Ketika Tidak Ada Pekerja

1# Jodoh

Mempunyai kesamaan dengan wanita atau pria yang kita kagumi saja tidak cukup untuk bisa membawa dia duduk bersama di kursi pelaminan, mengapa hal ini bisa terjadi? jika memang cinta itu datang tanpa ada syarat tertentu atau alasan tertentu

Jika konon katanya dulu jodoh datang lebih mudah dari biasanya walauapun saat itu  tak mempunyai pekerjaan yang layak seperti gaji bulanan, tunjangan hidup yang disediakan atauapun gaji pensiun yang memang ada atau yang lebih di kenal jaman milenal saat ini sebagai PNS

Yah ! PNS atau pegawai negeri sipil, pekerjaan yang paling di kagumi sebagian besar orang karena konon katanya menjadi PNS pasti sejahtera bahkan entah mengapa menjadi PNS menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang dan anda tahu ! pekerjaan ini bahkan menjadi bahan pertimbangan ketika hendak melamar seorang wanita.

2# Jarang Menyantap Kudapan Nikmat

Mempunyai pekerjaan yang layak tentu mempunyai duit, dan biasanya jika mempunyai duit bisa membeli apa yang ingin kita makan misal nasi goreng atau ayam lalapan bahkan secangkir kopi hangat pun dengan mudah kita dapatkan dengan mudah karena udah punya duit, benar g sih? :D

Nah berbeda ketika duit tak punya, yang kita lakukakn pasti menunggu, menunggu traktiran datang, menunggu job datang bahkan saking mirisnya menunggu rezeki datang pun bisa jadi alasan.

Dan ini menjadi hal yang miris ketika duit tak punya hal yang paling umum di lakukan adalah menunggu. dan kau tahu menunggu itu adalah yang paling menjengkelkan

3# Kenyaman Dirumah Menjadi Taruhan

Puncaknya dari ketiadaan pekerjaan adalah berkurangnya kenyaman berada di rumah seiring dengan pertanyaan yang kian datang menyangkut pekerjaan seperti:
Sudahkah anda melamar di instansi ini
Sudahkah anda mendapatkan pekerjaan itu
Sudahkah anda?
Terlalu banyak sudahkah disini dan kadang pertanyaan seperti "sudahkah anda" menjadi hal yang tidak mengenakan didengar ditelinga apalagi pertanyaan yang sama di dengar berhari-hari di rumah anda sendiri apalagi kita telah sarjana. lama kelamaan pertanyaan ini bisa membuat depresi di rumah sendiri.

Bahkan ketika pertanyaan itu sudah tak di tanyakan lagi muncul pernyataan baru yang tak kalah hebat misal:
"Kamu ini setiap hari dirumah, kerjaannya makan, nonton, tidur saja" 
"Kamu itu sarjana, cari kerja sana!"
"Kamu mau hidup kamu seperti ini saja"

Pada dasarnya ini bisa diubah dengan mencari pekerjaan yang lebih mudah tanpa harus menjadi PNS dengan menjadi seorang tukang ojek misalnya ataupun menjadi pedagang kaki lima. Masalahnya adalah ketika telah menjadi pedagang kaki lima contoh

Entah mengapa pekerjaan ini bahkan untuk beberapa orang di anggap tidak layak padahal kalau dilihat dari segi financial menjadi pedagang kaki lima jauh lebih menguntungkan, mengapa? karena hampir setiap hari kita bisa lihat duit

Namun masalnya addalah pedagang kaki lima itu sering di anggap sebelah mata apalagi ketika melamar seorang gadis. oppsss [....]

Saya rasa cukup sampai disini dulu yah, see ya :D

Jumat, 05 Oktober 2018

Mengapa Memilih Puncak Gunung Jika Masih Ada Pantai?

Saya sering diberi pertanyaan mengapa sih kalau ada waktu liburan? Memilih untuk mengahabiskan waktu di puncak gunung ketimbang harus ke pantai yang sebenarnya itu lebih mudah untuk di jangkau dengan kendaraan

Mengapa Memilih Puncak Gunung Jika Masih Ada Pantai


Saya sendiri tidak tahu alasannya mengapa? Yang saya tahu gunung itu mengajarkan banyak hal untuk para pendakinya mulai dari kerja sama tim, kesabaran, ketangkasan hingga ketetapan berpikir.

Berangkat dari pengalaman pribadi ketika hendak pergi ke salah satu gunung yang ada di Maluku yakni Gunung Salahutu, saat itu kami kekurangan alat yaitu wajan untuk masak dan ketika pergi meminjam disalah satu ruman paman saya, beliau bertanya “Mau kemana?” ingin ke muncak ke gunung ! pintaku

Mengapa harus ke gunung? Kan masih ada pantai, Mall, tempat karaoke dan lain lain. Jawabanku saat itu sederhana dan mungkin terdengar ambigu untuk beliau hingga saat ini yaitu hanya ingin kesana saja untuk jalan-jalan bukan di tempat lain.

Sejak kejadiaan itu hingga sekarang, aku masih bertanya mengapa? Bukankah mendaki itu adalah hal yang melelahkan bahkan beberapa kejadian bisa berakibat buruk untuk pendakinya tapi entah mengapa gunung mempunyai daya pikat tersendiri untuk para penikmatinya

Tapi yah ! Gunung itu mendamaikan hati para penikmatnya kalau kata soe hoe gie, mendaki gunung itu tidak ada orang munafik kalau pun ada sifat itu akan keluar dengan sendirinya seiring dengan perjalanan yang makin sulit

Dan biasanya tujuan mendaki ke gunung untuk beragam ada yang ingin menaklukan atau ada yang sekedar untuk melihat dari arah ketinggian bahkan sekedar selvie dengan pakaian yang sudah di siapkan di tas masing-masing pun ada.

Tapi yang paling sering saya dengar adalah menaklukan gunung, hmmm bentar mikir?? Benarkah itu? Mari kita kaji bersama

Menaklukan Gunung?

Gunung dengan ketinggian yang beragam mulai dari 1000mdpl hingga 7000mdpl selesai kita takulakan lantas apa yang terjadi dengan itu? Tentu tidak ada ! gunungnya masih berdiri kokoh tanpa ada perubahan yang berarti kalaupun ada itu adalah sampah yang di tinggalkan dan tentu ini mencederai etika dalam pendaki

Yang harus kita ketahui gunung tidak dapat ditaklukan, diri sendirilah yang kita taklukan ketika mendaki ke puncaknya,

Coba anda bayangkan yang pernah main ke gunung nih, selama perjalanan tentu kita mengalami kelelahan yang sangat berat, belum lagi teman yang membuat hal-hal aneh yang itu berdampak untuk tim perjalanan kita.

Itu bisa kita lalui walaupun harus menekan hingga batas yang ada pada diri kita, ini yang saya maksudkan ketika muncak ke gunung adalah bagaimana kita menaklukan diri sendiri dan puncak gunung itu adalah bonus untuk mereka yang berjuang hingga puncaknya

Jadi gimana? Mau ngabisin waktu libur di gunung atau dimana nih?


GIE, GUNUNG DAN SEPOTING PUISI

Ada tiga tipe mahasiswa yang harus kita ketahui, jauh sebelum kita bicara tentang Gie, Gunung Dan Sepotong Puisi. Tiga tipe ini semacam panduan sederhana yang akan memudahkan kita meramal apa dan bagaimana mereka di masa depan (Meski ramalan hanya punya Dilan yang merayu Milea: "Aku ramal, sebentar nanti, kita akan ketemu di kantin"). Pertama, mahasiswa kuda kepang; di mana, jenis mahasiswa ini adalah mahasiswa yang kuliah cuma buat datang dan dapat nilai bagus. Kuliah hanya terpaut soal, dapat nilai dan lekas lulus. Semua serba cepat, persis kuda kepang, greduk, greduk, gerduk... tipe ini akan sering kita temui dalam kehidupan dunia kampus dan kebanyakan dari mereka adalah calon PNS idaman bapak mantu. Mmm, tipe yang kedua (Untuk tidak banyak membuang waktu), mahasiswa organisasi dan politik. Jenis mahasiswa ini, sangat erat kaitannya dengan para vokalis band, eh maaf, vokalis jalanan, maksudnya, yang oriantasi hidupnya terpaut erat dengan microfon dan teriakan-teriakan yang konon menampung aspirasi kalangan penderita dan semacamnya, jargon andala: turunkan harga sembako, turunkan harga BBM, dan turunkan uang panae (Eh, yang terakhir itu belum. hehehe). Tipe ini adalah bakal calon politikus yang sudah bisa kita tebak nanti ada di kantor mana!. Dan tipe yang terakhir, adalah tipe yang akan kita bahas sekarang ini: Tipe mahasiswa liar. Agak kurang enak memang, saat saya harus menulis kata liar di akhir kata mahasiswa. Tapi liar di sini bisa diartikan, tak suka diatur. Liar sebab mereka membuat jarak antara mahasiswa Kupang (Kuda Kepang) atau mahasiswa Opik (Organisasi dan politik), dan Gie ada di dalam jenis mahasiswa liar, ini. Meski dalam banyak hal, Gie sendiri dapat digolongkan dalam tipe mahasiswa Opik (Organisasi dan Politik). Namun, ada satu fase akhirnya Gie harus memilih untuk menjadi mahasiswa Opik atau menjauh dari dunia yang berorientasi dengan politik. Dan Gie memilih gunung, bukan politik dan semacamnya. Gie menulis:

"Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna 
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan 
dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku" 

Saya pikir cukup cuap-cuapnya diprolog yang terlampau panjang ini. Karena inti tulisan ini ada di paragraf berikutnya, yang sebenarnya juga cuma berisi potongan puisi-puisi Gie. Hahaha...


Kecintaan Gie terhadap gunung, seperti kecintaan jomblo kepada kesepian. Dalam puisi-puisi Gie, gunung bisa jadi sebagai tempat tumpuan kerinduan yang tersimpan dengan rapat. Coba tengok bagaimana Gie menarasikan akan gunung dan kesepiannya itu:

"aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi 
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta" 

Aih, menggigil sekali sepotong puisi Gie itu. Saya kira, Gie sedang memasuki jurang-jurang kesepiannya saat menulis puisi. Kamu, apakah juga hendak menulis puisi saat di gunung? membayangkan kesepian paling dalam yang pernah dimiliki.

Saya suka puisi Gie. Puisi, saat Gie menjadikan Gunung sebagai penggambaran kesepian. Gie, Gunung dan Sepotong Puisi.

Berikut saya beri, kumpulan lengkap puisinya, semoga bermanfaat:

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966

Selasa, 25 September 2018

Film, Lelaki Timur Dan Imaji Yang Menghantui

Berbicara film dan orang timur itu agak aneh, tapi tak apalah, kita coba-coba sedikit mengulik tentang film dan orang timur. Dari beberapa hari jalan-jalan dengan beberapa orang belakangan ini, saya menemukan fakta bahwa, film punya daya pikat tersendiri bagi orang timur. Beberapa kali bercerita dengan mereka, beberapa kali pula saya terpukau bagaimana film yang dapat mengimaji benak orang-orang timur. Dan saya amat percaya bahwa tujuan film bukan hanya memberikan pesan-pesan rahasia (Cie, cie, cie, pesan rahasia nih ye  ) di dalam film itu sendiri atau pembelajaran berharga dari gambar yang disajikan film, melainkan juga, sadar atau tidak, film memberikan satu contoh untuk ditiru, untuk diceplak, diikuti, dijadikan panutan, terlebih lagi dengan sosok yang jadi idola di dalam film itu. Siapa sih yang tak terinspirasi buat jadi semacam yang ia sukai, terlebih idola di film?


Nah, berikut adalah tiga film dan pemain film yang telah membentuk imaji akan lelaki timur dibenak perempuan timur :

1. Sha Rukh Khan, Kuch-Kuch Hota Hai
Coba angkat tangan, perempuan mana yang tak mengenal lelaki India ini? Dengan kulit sawo matang, rambut sedikit bergelombang, hidung mancung dan tatap khas para famboyan, Saya pikir semua orang pasti mengenalnya dengan baik. Debutnya pada dekade akhir 90-an di film Kuch-Kuch Hota Hai merupakan pintu masuk bahwa seorang lelaki harus tampak periang, romantis dan agak sedikit jahil. Sha Rukh Khan mewakilkan semua hal tengik itu dalam film. Sepanjang 1998, lelaki homoris dan sedikit berani, jadi pilihan banyak perempuan. Degup jantung perempuan akan lebih kencang saat menonton Sha Rukh Khan dengan segala filmnya.

Untuk lelaki timur, semua itu tampaknya mudah-mudah saja: Periang, romantis dan agak sedikit jahil (berani), masih bisalah dituru-turu lelaki timur, dan saya pikir tak susah lelaki timur mencontohi si Garuk Khan, opsss, Sha Rukh Khan maksudnya. Heheehe… sebab sudah dari asalnya, lelaki timur itu homoris, romantis dan agak berani (meski gak semua juga sih, saya sedikit pemalu… wkwkwkwk)

2. Fahri, Ayat-Ayat Cinta
Memasuki tahun 2000-an, sekitar 2008-2009, di timur tiba-tiba memasuki periode ke-alim-an. Tipe lelaki ideal dalam imaji perempuan bergeser, dari rupawan ke-India-Indiaan menuju negeri asal, Indonesia, seperti dalam film Ayat-ayat cinta. Para perempuan merindukan sosok alim, cerdas dan kalem kayak Fahri bin Abdullah. Fahri jadi icon baru tentang lelaki. Semua serba berbau agama, relegius, alim, cerdas, kalem dan baik hati pada sesama. Saya pikir, kesuksesan film ini membawa angin baru tentang lelaki. Di kampus-kampus, banyak lelaki yang memposisikan dirinya seperti si Fahri, dan para perempuan suka berpikir hal yang sama dengan para lelaki: Mendambakan lelaki alim, cerdas... Bagi lelaki timur, untuk jadi semacam Fahri, masih bisalah, setidaknya, memakai songkok dan kemasjid seminggu sekali dan sholat lima waktu, bisa dilakukanlah. No problem.

3. Lee Min Ho, Dan Demam Korea.
Aih, sio mama sayang eee, sudah, saya gak kuat untuk jujur tentang film bahkan drama dari negeri Gingseng. Mmm… memasuki tahun 2010 hingga sekarang, ekspansi (wkwwkwk, ekspansi bahasanya, ckckckc) drama dan film Korea memasuki negeri di timur, negeri nan jauh di timur tiba-tiba mewabah film dan drama Korea. Dan kamu tahulah apa yang akan terjadi berikutnya. Bukan hanya film dan apa yang ditonton, tapi juga dampaknya adalah tipe lelaki ideal pun berubah dengan sangat radikal. Lelaki humoris dan alim yang merupakan sifat, berganti dengan tampang, face, wajah, para lelaki Korea yang merupakan hal fisik. Nah, kita yang lelaki timur bisa apa kalau sudah begini, bicara fisik? Kulit harus putih, bersih-mewangi, kemana-mana pake jas, dan seabrek embel-embelnyalah, yang tentu menyusahkan lelaki timur untuk mengikuti yang semacam ini. Yah, kamu bisa tahulah lelaki timur, bersih-mewangi masih bisalah (Mandi sehari 7 kali bisalah), kemana-mana pake Jas masih bisalah (Pinjam di tentangga), tapi soal kulit yang harus putih, itu rada susah. Kamu tahu sendirikan kulit lelaki timur itu hitam tapi manis, 11-12 dengan susu coklat kental.. wkwkwkw…

Untuk itulah, perihal nomor tiga ini, saya pikir masa-masa sulit untuk lelaki di timur. Mencontohi dan mengikuti lelaki Korea sama halnya mengikuti lari kuda dalam lomba uji lari. Sudahkah kamu beradu lari hari ini? Wkwkwk [ ]

Sabtu, 22 September 2018

Perempuan di Bibir Pantai


Perempuan di Bibir Pantai
Adalah Kasieh (bacanya Kasieh ya bukan kasih), salah satu desa yang ada di kecamatan Taniwel, Seram Bagin Barat, yang sering sekali disebut dengan nama kampung nelayan. Mengapa? Karena dari 12 desa yang ada di kecamatan ini hanya ada dua yakni Kasieh dan Lisabata yang memiliki paling banyak orang yang mengapungkan hidup mereka di laut nan biru. Bagi orang-orang Kasieh, melaut sudah menjadi bagian dari hidup mereka, sama seperti saya dan makanan yang sudah tak dapat di lepas pisahkan.


Walaupun Kasieh merupakan desa nelayan dan dengan prinsip emansipasi yang dijunjung tinggi seperti sekarang ini, bukan berarti perempuan-perempuan di Kasieh bertukar kewajiban dengan lelaki-lelakinya. Jangan berpikir kalian akan menemukan “nelayanita” disini. Oh, Tidak!  akan tetapi, kalian akan menemukan  beberapa tipe perempuan Kasieh yang berperan dalam hidup nelayan. Mungkin kalian dapat mengenal dan belajar dari para perempuan disini:


1.    Perempuan yang setia menanti kedatangan suaminya
Perempuan di Bibir Pantai
Perempuan di Bibir Pantai

Perempuan tipe ini adalah yang paling layak dicontoh menurut saya. Biasanya mereka adalah istri-istri dari nelayan. Mereka dengan sangat setia menanti kepulangan suami mereka, bukan kepulangan saja melainkan pula ketika nelayan-nelayan ini berangkat pada pagi hari  (Antara jam 3 atau 4 pagi), mereka setia menemani hanya sekedar membawakan bekal, peralatan, hingga mendoakan suaminya pulang dengan selamat dan membawa pulang hasil yang bagus. Oleh karena waktu kepulangan nelayan yang tak tentu, maka tak tanggung-tanggung dari siang mereka sudah berada di pantai dan akan menunggu sampai suaminya pulang walau malam sekalipun sambil bersosialisasi dengan istri nelayan lainnya membahas dari kebutuhan rumah, anak sekolah, hingga hasil tangkapan suami mereka. Hal yang paling saya kagumi dari mereka adalah, mereka sangat mengenal suami mereka, bahkan suami orang pun mereka kenali. Begitu ada perahu nelayan yang  terlihat mendekat ke bibir pantai, mereka para perempuan itu sudah tahu apakah itu suami mereka atau bukan, maka dengan segera mereka menyiapkan “kayu langi” dan bersiap bantu mendorong perahu suami mereka. Hebat bukan? Mungkin pada saat mendorong inilah emansipasinya berlaku.
Perempuan di Bibir Pantai

Selain itu antara nelayan dan istrinya seakan sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas. Jika nelayan bertanggung jawab penuh ketika berada di lautan, maka ketika berada di pantai seakan peran itu digantikan oleh sang istri. Bak raja, begitu sampai, biasanya nelayan akan lansgung duduk beristirahat sambil merekok dan sang istrinyalah yang terlihat sibuk ke sana-kemari mengeluarkan ikan-ikan hasil tangkapan si bapak dan menentukan akan dijual ke mana, kemudian membantu membersihkan perahu suaminya, membawa pulang perelengkapan memancing dan tempat bekal yang sudah habis isinya, hingga memberikan senyuman jika suami mereka pulang dengan hasil yang kurang atau bahkan tanpa hasil sekalipun. Dan sekali lagi, hebat bukan? Mungkin dalam hati mereka kecewa dengan hasil tangkapan suami mereka yang terkadang kecil, mengingat biaya untuk melaut yang tak murah, namun dihadapan suaminya, mereka tak harus mengeluh (Apalagi harus curhat di Insragram seperti emak-emak zaman now, itu), tak ada cacian, tak ada wajah marah yang mereka tunjukan (Saya tidak tahu kalau dirumah ya!) . Sepertinya mereka sudah cukup bersyukur dengan kepulangan suaminya, biar besok bisa pi lai too..hehehe
Perempuan di Bibir Pantai
jibu-jibu


2. Perempuan yang menanti kedatangan bukan kepulangan

Jibu-jibu atau yang kalau di Ambon lebih dikenal dengan nama Papalele ini adalah mereka yang membeli ikan dari nelayan untuk dijual lagi. Memang jibu-jibu bukan hanya perempuan tetapi di Kasieh sini banyak dari mereka yang perempuan. Walupun terkadang yang menjual ikan adalah suami mereka tetapi para ibu-ibulah yang sering berada di bibir pantai untuk membeli ikan dari nelayan. Karena namanya (j)ibu-(j)ibu kali ya?. Nah, jika tipe perempuan pertama adalah istri nelayan, maka Jibu-Jibu biasanya bersuamikan orang-orang pebisnis yang tak punya keahlian maupun perlengkapan untuk melaut. Namun banyak juga dari para jibu-jibu ini  yang sudah tak bersuami lagi. Jika istri nelayan duduk di pantai menunggu suaminya pulang, mereka ini sering bersama suami mereka di pantai menunggu suami orang pulang, romantis bukan? duduk berdua, memandang laut dan ombak yang saling bersekutu, aih, Jomblo pasti Baper, hehehe.  
Dan lebih hebatnya lagi, jika yang para istri nelayan hanya menunggu suaminya seorang, mereka ini menunggu semua suami orang (baca: Nelayan) untuk pulang. Mereka rela berjalan ke sana-kemari menghampri setiap nelayan hanya demi mendapatkan ikan untuk dibeli. Biasanya perempuan-perempuan ini akan duduk bersama dengan istri-istri nelayan sekedar bersosialisasi atau curhat atau mungkin juga dengan misi untuk membangun relasi agar para istri ini mau menjual ikannya pada mereka. Salah satu sosialisasi yang cukup produktif, bukan?


3.    Bakal calon perempuan Kasieh
Perempuan di Bibir Pantai

Kalau dua tipe perempuan sebelumnya menghabiskan waktu mereka dengan tujuan yang jelas. Maka tipe perempuan ini adalah mereka yang menghabiskan waktu di pantai hanya untuk mendapatkan kesenangan yang jelas. Mereka ini adalah anak-anak kecil yang suka sekali berada di pantai. Sepertinya untuk mendapatkan kesenangan, bagi mereka bukanlah hal sulit, tak perlu hal mewah atau barang mahal (Apalagi gawai 7 juta yang dipakai cuma buat main game online) hanya bermodalkan panci dan botol bekas, batu dan daun-daun pohon, bisa mereka jadikan bahan untuk bermain. Adapula dari mereka yang
Perempuan di Bibir Pantai
menjajakan jualan ibunya seketika terlupakan saat bertemu dan bergabung dengan teman mereka yang sedang bermain, seakan tak perduli mau terjual habis atau tidak, bahkan ada yang nekat memakan jualannya sendiri ketika lelah atau haus setelah bermain. Tentu dengan resiko akan dimarahi bila nanti pulang. But that is life, no?? take risk, enjoy first. Banyak sekali permainan yang sering dimainkan, seperti : Benteng, boi (anak Ambon jaman old pasti tau), sepak bola,  hingga permainan yang saya tiak tau apa namanya. Biasanya setelah lelah bermain mereka dengan tanpa pikir panjang langsung menjatuhkan diri ke dalam gempuran ombak yang tak pernah lelah datang dan pergi. Kebanyakan dari perempuan-perempuan ini juga merupakan anak nelayan yang akan langsung berlari ke tempat mendaratnya perahu ayah mereka. Sekadar melihat hasil keringat ayahnya atapun membantu melakukan hal-hal yang dilakukan ibu mereka.

Well, saya pun adalah wanita yang suka sekali berada di bibir pantai Kasieh, walaupun harus menanggung resiko kulit yang sudah hitam ini, menjadi lebih hitam lagi. Tak apa toh cuma kulit. Bagi saya pantai memang selalu punya cerita, entah mengapa semuanya terlihat indah jika berada di pantai, walaupun saya tak punya siapa-siapa yang saya tunggu layaknya para ibu-ibu di sini. Tapi saya punya teman-teman kecil yang selalu mau saja jika saya menawarkan diri untuk ikut bermain (biasanya saya selalu jadi “ana bawang”  Karena paling besar sendiri, hehehe  )


Semua orang punya tanggung jawab dan tujuan mereka masing-masing, tak mengenal laki-laki atau perempuan. Saling menghargai dan mempercayai mungkin jalan paling baik. Dan menurut saya, lelaki yang baik adalah lelaki yang tak menghalangi dan mempercayai wanitanya.

Salam,

Jalilss, masih Perempuan penikmat jalan.
Perempuan di Bibir Pantai
sunrise di Kasieh







Rabu, 19 September 2018

Menengok Perempuan-perempuan Laporo Di Pasar Mardika Ambon

Jika dulu sekali perempuan dianggap sebatas pada pendamping pria, dan tugasnya pun terbatas hanyadi dapur, sumur, dan di kamar, begitu yang saya sering dengar ketika duduk bercerita dengan beberapa komunitas kecil yang ada.Bahkan ungkapan dapur, sumur, dan kamar, sering sekali menjadi lelucon di kalangan pria. Namun kini, semua berbalik arah, perempuan telah mendapatkan porsi yang sama dengan pria atau dalam bahas kerennya adalah women emancipation.

Menengok Perempuan-perempuan Laporo Di Pasar Mardika Ambon

Sederhananya, women emancipation adalah keseteraan jenis dengan kata lain perempuan dan wanita mempunyai hak yang sama-sama bekerja maupun mengurus anak, dan ini hampir terjadi di seluruh pelosok dunia, Indonesia hingga kota kecil yang ada Indonesia bagian timur semacam Ambon, misalnya.

Jika kita berkunjung di salah satu pasar yang ada di kota Ambon lebih tepatnya lagi di pasar Mardika Ambon. Kita akan menemukan sebagian besar pedagang kali lima yang ada di area tersebut adalah perempuan. Apalagi jika masuk di area terminal Mardika Ambon yang kini "disulap" menjadi pasar, adalah perempuan.Dan uniknya kebanyakan perempuan yang ada di pasar terminal Mardika adalah berasal dari satu suku yaitu laporo.

Laporo merupakan salah satu suku yang berasal dari pulau Sulawesi Tenggara ini memang sudah lama berada di pulau Ambon untuk berdagang, mulanya sih para pria yang lebih dulu pergi merantau dan berdagang, lalu seiring waktu para perempuan ikut dan berdagang.

Tak banyak berbeda dengan cara pria Latporo berdagang, hanya saja ketika perempuan dari suku Laporo ini ialah berdagang akan mengajak anak mereka, jadi tak heran jika kita akan melihat banyak sekali anak-anak yang bermain di area pasar terminal Mardika dengan bebas.

Bayangkan ketika kita lagi meyakinkan pembeli untuk membeli  dagangan kita dan di sisi lain kita harus sering menggelengkan kepala kita beberapa saat hanya untuk mengecek anak kita yang sedang berlarian kesana- ke mari dengan bebasnya, Apakah bisa?Sulit sekali, bukan! Dan mereka perempuann Laporo sangat ahli dalam menangani hal yang cukup sulit itu untuk di lakukan pria laporo. Bejualan dan menjaga anak dalam waktu bersamaan.

Bahkan ketika selesai berjualan dipasar, mereka perempuan Laporo harus mempersiapkan makanan untuk makan malam keluarganya, pula mengajari anak mereka belajar di rumah ketika malam hari. Luar biasa bukan?

Bagi saya, ini adalah hal yang luar biasa yang tidak dapat dilakukan kebanyakan pria Laporo, berdagang, mengasuh anak di pasar maupun dirumah,mengajari anak belajar, hingga mengurusi kebutuhan keluarga.

Mungkin ada baiknya, bolehlah sekali-kali kita berkunjung di pasar terminal Mardika Ambon dan sekadar bercengkrama dengan perempuan-perempuan Laporo itu. Siapa tahu, kamu yang masih jomblo bisa bertemu atau di jodohkan dengan perempuan tangguh dari Laporo, opssss.. [ ]

Selasa, 18 September 2018

Mencari Iklan Yang Mewakilkan Perempuan Kulit Hitam Manis Di Televisi -



Hidup di timur dengan intensitas cahaya yang lebih terik dan membiarkan kulit diterpa cahaya matahari tiap harinya adalah gambaran sehari-hari. Dan kulit orang timur memang sudah kadung dikenal dan dicap hitam. Asu, saya agak kurang suka dengan lebel cap hitam-hitaman ini.

Sejauh yang saya tahu, pemutih kulit jadi hal yang acap kali dibeli perempuan. Dari bocoran yang saya dapat, benda yang bermacam-macam bentuknya ini, entah berupa krim, sabun atau obat berbentuk kapsul untuk mencerahkan kulit, adalah benda-benda yang sudah mahfum di kalangan perempuan. Tapi, apa sebenarnya yang ditawarkan pemutih kulit untuk orang-orang timur yang terkadang berkulit lebih gelap? Apakah stigma bahwa gelap dan berkulit hitam adalah sesuatu yang jelek, atau yang putih selalu tampak bersih dan menjanjikan, kah?

Televisi dihadapan saya masih menyala. Iklan-iklan berseliweran, saya memperhatikan dengan seksama. Perempuan kulit putih sedang mempromosikan iklan pelembab wajah. Tayangan iklan lain berganti, perempuan kulit putih mengoles lipstik merah merekah di bibir yang indah dipandang. Kembali tayangan iklan berganti, sepasang lelaki gagah dan perempuan cantik berkulit putih sedang mengiklankan makanan ringan. Saya bertanya-tanya dalam hati, di mana iklan perempuan manis berkulit agak gelap?

Sebuah iklan

Citra cantik dan tampak cantik adalah penggambaran perempuan yang maha agung. Sayangnya, citra ini hanya menghampiri kaum perempuan kulit putih. Dan mayoritas kita sudah kadung mempercayai bahwa yang putih selalu tampak cantik, menarik dan menyilaukan. Cantik tentu identik dengan putih. Dan perempuan-perempuan yang berseliweran yang saya lihat di iklan-iklan televisi adalah perempuan-perempuan cantik yang dibalut kulit nan putih. Bagaimana dengan perempuan manis berkulit hitam, apakah mereka bisa disebut cantik juga--sejajar dengan perempuan berkulit putih yang sudah dianggap cantik oleh kebanyakan dari kita?

Saya masih menyaksikan iklan di televisi. Lalu tiba-tiba, teman saya datang. Kami ngobrol di luar rumah, membiarkan televisi tetap menyala. Saya bertanya kepada teman saya:

"Apa iklan yang pantas untuk orang timur yang berkulit hitam?"

ia cekikikan, dan menjawab:
"Iklan oli"

Asu, kami sama-sama tertawa. Kami sadar, iklan yang bisa mewakilkan perempuan kulit hitam memang tak ada. Meski yang dijual barangkali sebuah produk pemutih kulit untuk orang kulit hitam. Namun yang tetap menjadi model iklannya adalah perempuan putih :)


Tiga Jenis Menantu Idaman Bapak Mertua Berdasarkan Pekerjaan

Kata orang, selain memenangkan hati perempuan yang kita sukai, konon, kita juga wajib memenangkan hati mertua, lebih-lebih bapak mertua. Ibarat kata nih, restu bapak mertua itu kayak hujan yang diharapkan dari sebuah hubungan. Tak jarang, hubungan dua orang yang sudah kadung cinta dan berkasih sayang harus bubar sebab bapak mertua tak merestui.
           
Dari pada mumet, mikirin isi hati bapak mertua yang sukar ditebak juntrungannya. Berikut kita tengok kriteria menantu Idaman bapak mertua berdasarkan pekerjaan. Setidaknya, yang jomblo dan masih muda, bisa mempersiapkan mental untuk kelak menjawab satu pertanyaan andalan bila ditanya bapak mertua "Apa kerjaanmu, Nak?":

#1. Polisi/Tentara.
Dari zaman KNIL hingga sekarang, tentara jadi pekerjaan yang sangat diidamkan banyak orang. Para pemuda yang siap tempur dan bela negara adalah idealisme yang sangat diharapkan berada dipundak dan dada para pemuda. Berani dan berbakti pada nusa dan bangsa sudah cukup meloloskan satu tiket yang menunjukkan bahwa seorang Tentara atau polisi, adalah mantu idaman. Lah wong, dengan bekerja di militer bisa melindungi negara, apalagi cuma melindungi anak perempuan bapak mertua, hanya soal kecil itu. Lindung melindungi, ayom mengayomi itu pekerjaan Militer yang sudah barang tentu keseringan dilakoni. Tenang, Pak, semuanya beres. Siap, grak!.

#2.Pembisnis/Pedagang
Mertua mana sih, yang gak kepikiran anaknya nanti ada di tangan siapa? kesusahan gak? makannya apa nanti kalo nikah?. Nah, berdasarkan ketakutan-ketakutan inilah, bapak mertua akan sangat selektif untuk mengira-ngira anak mantunya seperti apa kelak. Dan atas hal ini pula, mantu seorang pembisnis atau pedagang dipandang bisa menjawab tantangan ihwal ketakutan kelaparan itu. Jaminan anak perempuan agar tidak kena busung lapar dan perkara bahagia bisa ditangani dengan cepat, ringkas dan gesit saat dibereskan dengan uang. Siapa sih yang menolak bila uang sudah banyak bicara. Dan mantu berbudi dan berkutat dengan tunghitung uang bisa banyak membantu.

#3.PNS.
Subahanallah, yang terakhir ini. Adalah menantu idaman akhir zaman. Menantu ideal yang wajib diperhitungkan dalam kancah bangga membanggakan. Bisa dipastikan tahta tertinggi dari ideal seorang anak mantu adalah PNS. Berbaju coklat, bersepatu kulit, berjam tangan, rambut disisir rapi mengkilat, wangi bau parfum semerbak, mertua mana yang gak serrr-seran dengan mantu yang tiap pagi tampak sempurna? Masya Allah. Takbir!  :)

Sabtu, 15 September 2018

Perempuan Penikmat Jalan

29 Juli 2018, sabtu hari dimana saya meninggalkan rumah dengan penuh semangat, jika kalian membca ini mungkin kalian akan berpikir saya ingin sekali meninggalakan rumah, namun tidak saya hanya sedang bersemangat mempersilahkan diri saya melangkah menapaki jalan dan merasakan angin hingga terik mentari yang tanpa ampun menyinari




Bermodalkan pakaian seransel, jaket, sebotol air minum dan 2 bungkus keripik pisang yang diisi oleh ibu saya mengingat anak perempuannya akan pergi di tanah orang yang tak 1orangpun ia kenali maka my journey officially started. 

Well tujuan saya kali ini adalah pulau seram, pulau terbesar di provinsi Maluku, tepatnya saya akan ke Taniwel, seram bagian barat. Ini merupakan perjalanan pertama saya ke taniwel, tak tergambar sedikit pun seperti apa taniwel itu dan saya pun tak mau terlalu repot memikirkannya toh saya akan tau dengan sendirinya ketika saya sampai disana. Dari ambon ke pulau seram saya menumpang angkutan ferry milik negara dengan tiket yang saya bayar seharga sebungkus nasi padang pake kuah rendang dan sambel *saya kangen sekali  itu makanan^^* selama 1.5 jam. Perjalanan saya belum selesai, taniwel masih jauh disana, setelah meumpang ferry dan sampai di pelabuhan waipirit pulau seram saya masih harus menlanjutkan perjalanan dengan mobil selama kurang lebih berjam-jam *hehe. 

Dalam perjalanan ke taniwel banyak sekali desa-desa kecil dengan orang-orang yang seprtinya ramah dan cukup bersahabat. Mengapa? Karena setiap klakson yang dibunyikan ketika memenui kerumunan orang di desa yang kami lewati selalu di balas dengan lambaian tangan dan senyum yang mengembang. Terlihat pula beberapa ibu, bapak, hingga anak-anak yang sepertinya baru pulang dari kebun berjalan menuju rumah, ada yang bristirahat dengan duduk hingga tiduran dipinggir jalan yang masih saja mengumbar senyum mereka ketika di klakson, padahal mungkin klakson tersebut bukan untuk menyapa tapi untuk meminta memberi sedikit ruang, tapi tetap saja dibalas dengan senyum tulus mereka yang masih cukup enak untuk dilihat.


Ketika melewati 1 desa yang saya tidak tau apa namanya. Tepat dipinggir jalan di sebelah kiri saya terlihat meja beratap yang diatasnya berjejer beberapa toples yang berisi jajanan seperti roti, donat, kacang, hingga makanan yang tidak saya tau apa namanya. Namun bukan isi toples – toples itu yang menarik perhatian saya *walaupun saya sedikit tertarik>,<* tapi fakta bahwa tak ada penjaga topless-toples itulah yang mebuat saya membatin “itu ditinggal begitu saja, gak dicuri?” kalau hal ini terjadi di ambon mungkin dalam sekejap isinya akan habis bahkan bisa lenyap sekaligus dengan toplesnya. Hal ini seakan menyadarkan saya, ada banyak hal yang mati-matian di jaga namun masih tetap saja dicuri, tapi ada yang tak dijaga namun tak juga dicuri. Mungkin menyerahkan segalanya untuk dijaga Tuhan adalah pilihan terbaik, jika memang itu punyamu maka takkan kemana, namun jika memang dicuri maka ikhlaskanlah mungkin itu bukan punyamu. 

Tepat setengah 6 sore, saya akhirnya sampai di Taniwel, kesan pertama saya tentang taniwel adalah Damn! Jalanan rusak dan berdebu. Karna aspal dan jalanan mulus hanya sampai di pintu masuk desa Taniwel yang di tandai sebuah gapura besar bertuliskan selamat datang. Jalanan yang berlubang sana sini, batu-batu kerikil yang menghiasi, dan debu yang berterbangan ketika dilewati seakan menjadi paket komplit yang menyambut kedatangan saya. Well, Welcome to Taniwel, Sri. Sekilas Taniwel ini sama saja dengan desa-desa lain yang kami lewati, rumah di kiri kanan jalan, dari rumah berdinding batu hingga bambu, gedung sekolah, beberapa kantor, rumah ibadah, dan tak luput pula meja beratap yang menawarkan jajanan. 

Hal pertama yang membuat saya berdecak kagum ketika sampai disini adalah rona merah di langit taniwel yang begitu mempesona, Tuhan seakan tau betapa susahnya saya menemukan merah itu di Ambon, mungkin Ambon sudah kehabisn stok merah sehingga kelabu saja yang ia tampakkan.

Selain itu ada hal lain yang membuat senja di taniwel ini lebih saya tunggu, tak tanggung-tanggung saya duduk hampir sekitar 1 jam hanya untuk menatapi sang raja siang menghilang dan digantikan dengan ratunya malam, bukan hanya untuk menikmati rona merahya namun juga agar saya tau kemana harus saya berdiri menghadap tuhan saya. FYI, mayoritas penduduk di taniwel ini beragama Kristen, jadi tak ada masjid disini dan bagi seorang muslim seperti saya yang punya kewajiban untuk menghadap tuhan saya keberaadaan masjid sangat membantu untuk mengetahui kemarah arah kiblat dan pengingat waktu sholat dengn lantunan adzannya, namun tak ada yang tak mungkin jika kita mau berusaha, ibarat kata tak ada masjid senja pun jadi. Itulah mengapa senja kali ini adalah senja pertama dalam hidup saya yang begitu saya tunggu kehilangannya *apasih inii?? Hahahahha. 

Well, ini baru tentang hari pertama saya di taniwel, masih ada banyak cerita lain yang bisa ceritakan kepada kalian. So wait for that yahhh,…..