Sabtu, 22 September 2018

Perempuan di Bibir Pantai


Perempuan di Bibir Pantai
Adalah Kasieh (bacanya Kasieh ya bukan kasih), salah satu desa yang ada di kecamatan Taniwel, Seram Bagin Barat, yang sering sekali disebut dengan nama kampung nelayan. Mengapa? Karena dari 12 desa yang ada di kecamatan ini hanya ada dua yakni Kasieh dan Lisabata yang memiliki paling banyak orang yang mengapungkan hidup mereka di laut nan biru. Bagi orang-orang Kasieh, melaut sudah menjadi bagian dari hidup mereka, sama seperti saya dan makanan yang sudah tak dapat di lepas pisahkan.


Walaupun Kasieh merupakan desa nelayan dan dengan prinsip emansipasi yang dijunjung tinggi seperti sekarang ini, bukan berarti perempuan-perempuan di Kasieh bertukar kewajiban dengan lelaki-lelakinya. Jangan berpikir kalian akan menemukan “nelayanita” disini. Oh, Tidak!  akan tetapi, kalian akan menemukan  beberapa tipe perempuan Kasieh yang berperan dalam hidup nelayan. Mungkin kalian dapat mengenal dan belajar dari para perempuan disini:


1.    Perempuan yang setia menanti kedatangan suaminya
Perempuan di Bibir Pantai
Perempuan di Bibir Pantai

Perempuan tipe ini adalah yang paling layak dicontoh menurut saya. Biasanya mereka adalah istri-istri dari nelayan. Mereka dengan sangat setia menanti kepulangan suami mereka, bukan kepulangan saja melainkan pula ketika nelayan-nelayan ini berangkat pada pagi hari  (Antara jam 3 atau 4 pagi), mereka setia menemani hanya sekedar membawakan bekal, peralatan, hingga mendoakan suaminya pulang dengan selamat dan membawa pulang hasil yang bagus. Oleh karena waktu kepulangan nelayan yang tak tentu, maka tak tanggung-tanggung dari siang mereka sudah berada di pantai dan akan menunggu sampai suaminya pulang walau malam sekalipun sambil bersosialisasi dengan istri nelayan lainnya membahas dari kebutuhan rumah, anak sekolah, hingga hasil tangkapan suami mereka. Hal yang paling saya kagumi dari mereka adalah, mereka sangat mengenal suami mereka, bahkan suami orang pun mereka kenali. Begitu ada perahu nelayan yang  terlihat mendekat ke bibir pantai, mereka para perempuan itu sudah tahu apakah itu suami mereka atau bukan, maka dengan segera mereka menyiapkan “kayu langi” dan bersiap bantu mendorong perahu suami mereka. Hebat bukan? Mungkin pada saat mendorong inilah emansipasinya berlaku.
Perempuan di Bibir Pantai

Selain itu antara nelayan dan istrinya seakan sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas. Jika nelayan bertanggung jawab penuh ketika berada di lautan, maka ketika berada di pantai seakan peran itu digantikan oleh sang istri. Bak raja, begitu sampai, biasanya nelayan akan lansgung duduk beristirahat sambil merekok dan sang istrinyalah yang terlihat sibuk ke sana-kemari mengeluarkan ikan-ikan hasil tangkapan si bapak dan menentukan akan dijual ke mana, kemudian membantu membersihkan perahu suaminya, membawa pulang perelengkapan memancing dan tempat bekal yang sudah habis isinya, hingga memberikan senyuman jika suami mereka pulang dengan hasil yang kurang atau bahkan tanpa hasil sekalipun. Dan sekali lagi, hebat bukan? Mungkin dalam hati mereka kecewa dengan hasil tangkapan suami mereka yang terkadang kecil, mengingat biaya untuk melaut yang tak murah, namun dihadapan suaminya, mereka tak harus mengeluh (Apalagi harus curhat di Insragram seperti emak-emak zaman now, itu), tak ada cacian, tak ada wajah marah yang mereka tunjukan (Saya tidak tahu kalau dirumah ya!) . Sepertinya mereka sudah cukup bersyukur dengan kepulangan suaminya, biar besok bisa pi lai too..hehehe
Perempuan di Bibir Pantai
jibu-jibu


2. Perempuan yang menanti kedatangan bukan kepulangan

Jibu-jibu atau yang kalau di Ambon lebih dikenal dengan nama Papalele ini adalah mereka yang membeli ikan dari nelayan untuk dijual lagi. Memang jibu-jibu bukan hanya perempuan tetapi di Kasieh sini banyak dari mereka yang perempuan. Walupun terkadang yang menjual ikan adalah suami mereka tetapi para ibu-ibulah yang sering berada di bibir pantai untuk membeli ikan dari nelayan. Karena namanya (j)ibu-(j)ibu kali ya?. Nah, jika tipe perempuan pertama adalah istri nelayan, maka Jibu-Jibu biasanya bersuamikan orang-orang pebisnis yang tak punya keahlian maupun perlengkapan untuk melaut. Namun banyak juga dari para jibu-jibu ini  yang sudah tak bersuami lagi. Jika istri nelayan duduk di pantai menunggu suaminya pulang, mereka ini sering bersama suami mereka di pantai menunggu suami orang pulang, romantis bukan? duduk berdua, memandang laut dan ombak yang saling bersekutu, aih, Jomblo pasti Baper, hehehe.  
Dan lebih hebatnya lagi, jika yang para istri nelayan hanya menunggu suaminya seorang, mereka ini menunggu semua suami orang (baca: Nelayan) untuk pulang. Mereka rela berjalan ke sana-kemari menghampri setiap nelayan hanya demi mendapatkan ikan untuk dibeli. Biasanya perempuan-perempuan ini akan duduk bersama dengan istri-istri nelayan sekedar bersosialisasi atau curhat atau mungkin juga dengan misi untuk membangun relasi agar para istri ini mau menjual ikannya pada mereka. Salah satu sosialisasi yang cukup produktif, bukan?


3.    Bakal calon perempuan Kasieh
Perempuan di Bibir Pantai

Kalau dua tipe perempuan sebelumnya menghabiskan waktu mereka dengan tujuan yang jelas. Maka tipe perempuan ini adalah mereka yang menghabiskan waktu di pantai hanya untuk mendapatkan kesenangan yang jelas. Mereka ini adalah anak-anak kecil yang suka sekali berada di pantai. Sepertinya untuk mendapatkan kesenangan, bagi mereka bukanlah hal sulit, tak perlu hal mewah atau barang mahal (Apalagi gawai 7 juta yang dipakai cuma buat main game online) hanya bermodalkan panci dan botol bekas, batu dan daun-daun pohon, bisa mereka jadikan bahan untuk bermain. Adapula dari mereka yang
Perempuan di Bibir Pantai
menjajakan jualan ibunya seketika terlupakan saat bertemu dan bergabung dengan teman mereka yang sedang bermain, seakan tak perduli mau terjual habis atau tidak, bahkan ada yang nekat memakan jualannya sendiri ketika lelah atau haus setelah bermain. Tentu dengan resiko akan dimarahi bila nanti pulang. But that is life, no?? take risk, enjoy first. Banyak sekali permainan yang sering dimainkan, seperti : Benteng, boi (anak Ambon jaman old pasti tau), sepak bola,  hingga permainan yang saya tiak tau apa namanya. Biasanya setelah lelah bermain mereka dengan tanpa pikir panjang langsung menjatuhkan diri ke dalam gempuran ombak yang tak pernah lelah datang dan pergi. Kebanyakan dari perempuan-perempuan ini juga merupakan anak nelayan yang akan langsung berlari ke tempat mendaratnya perahu ayah mereka. Sekadar melihat hasil keringat ayahnya atapun membantu melakukan hal-hal yang dilakukan ibu mereka.

Well, saya pun adalah wanita yang suka sekali berada di bibir pantai Kasieh, walaupun harus menanggung resiko kulit yang sudah hitam ini, menjadi lebih hitam lagi. Tak apa toh cuma kulit. Bagi saya pantai memang selalu punya cerita, entah mengapa semuanya terlihat indah jika berada di pantai, walaupun saya tak punya siapa-siapa yang saya tunggu layaknya para ibu-ibu di sini. Tapi saya punya teman-teman kecil yang selalu mau saja jika saya menawarkan diri untuk ikut bermain (biasanya saya selalu jadi “ana bawang”  Karena paling besar sendiri, hehehe  )


Semua orang punya tanggung jawab dan tujuan mereka masing-masing, tak mengenal laki-laki atau perempuan. Saling menghargai dan mempercayai mungkin jalan paling baik. Dan menurut saya, lelaki yang baik adalah lelaki yang tak menghalangi dan mempercayai wanitanya.

Salam,

Jalilss, masih Perempuan penikmat jalan.
Perempuan di Bibir Pantai
sunrise di Kasieh







Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Comments


EmoticonEmoticon