Jumat, 05 Oktober 2018

GIE, GUNUNG DAN SEPOTING PUISI

Ada tiga tipe mahasiswa yang harus kita ketahui, jauh sebelum kita bicara tentang Gie, Gunung Dan Sepotong Puisi. Tiga tipe ini semacam panduan sederhana yang akan memudahkan kita meramal apa dan bagaimana mereka di masa depan (Meski ramalan hanya punya Dilan yang merayu Milea: "Aku ramal, sebentar nanti, kita akan ketemu di kantin"). Pertama, mahasiswa kuda kepang; di mana, jenis mahasiswa ini adalah mahasiswa yang kuliah cuma buat datang dan dapat nilai bagus. Kuliah hanya terpaut soal, dapat nilai dan lekas lulus. Semua serba cepat, persis kuda kepang, greduk, greduk, gerduk... tipe ini akan sering kita temui dalam kehidupan dunia kampus dan kebanyakan dari mereka adalah calon PNS idaman bapak mantu. Mmm, tipe yang kedua (Untuk tidak banyak membuang waktu), mahasiswa organisasi dan politik. Jenis mahasiswa ini, sangat erat kaitannya dengan para vokalis band, eh maaf, vokalis jalanan, maksudnya, yang oriantasi hidupnya terpaut erat dengan microfon dan teriakan-teriakan yang konon menampung aspirasi kalangan penderita dan semacamnya, jargon andala: turunkan harga sembako, turunkan harga BBM, dan turunkan uang panae (Eh, yang terakhir itu belum. hehehe). Tipe ini adalah bakal calon politikus yang sudah bisa kita tebak nanti ada di kantor mana!. Dan tipe yang terakhir, adalah tipe yang akan kita bahas sekarang ini: Tipe mahasiswa liar. Agak kurang enak memang, saat saya harus menulis kata liar di akhir kata mahasiswa. Tapi liar di sini bisa diartikan, tak suka diatur. Liar sebab mereka membuat jarak antara mahasiswa Kupang (Kuda Kepang) atau mahasiswa Opik (Organisasi dan politik), dan Gie ada di dalam jenis mahasiswa liar, ini. Meski dalam banyak hal, Gie sendiri dapat digolongkan dalam tipe mahasiswa Opik (Organisasi dan Politik). Namun, ada satu fase akhirnya Gie harus memilih untuk menjadi mahasiswa Opik atau menjauh dari dunia yang berorientasi dengan politik. Dan Gie memilih gunung, bukan politik dan semacamnya. Gie menulis:

"Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna 
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan 
dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku" 

Saya pikir cukup cuap-cuapnya diprolog yang terlampau panjang ini. Karena inti tulisan ini ada di paragraf berikutnya, yang sebenarnya juga cuma berisi potongan puisi-puisi Gie. Hahaha...


Kecintaan Gie terhadap gunung, seperti kecintaan jomblo kepada kesepian. Dalam puisi-puisi Gie, gunung bisa jadi sebagai tempat tumpuan kerinduan yang tersimpan dengan rapat. Coba tengok bagaimana Gie menarasikan akan gunung dan kesepiannya itu:

"aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi 
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta" 

Aih, menggigil sekali sepotong puisi Gie itu. Saya kira, Gie sedang memasuki jurang-jurang kesepiannya saat menulis puisi. Kamu, apakah juga hendak menulis puisi saat di gunung? membayangkan kesepian paling dalam yang pernah dimiliki.

Saya suka puisi Gie. Puisi, saat Gie menjadikan Gunung sebagai penggambaran kesepian. Gie, Gunung dan Sepotong Puisi.

Berikut saya beri, kumpulan lengkap puisinya, semoga bermanfaat:

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.

Comments


EmoticonEmoticon