Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2018

Di antara Dasrath Manjini, Gunung, Dan Cinta Yang Hilang

Jika cinta di artikan sebagai pengorbanan? maka bisakah aku bertanya ? seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan untuk seseorang yang kita cintai? memberikan dia waktu yang kita punya, memberikan dia harta atau membantu dia sekuat tenaga yang kita punya?

Tapi ! memang ada yang harus kita korbankan untuk mendapatkan cinta yang kita inginkan, salah satunya adalah dengan membelah gunung menjadi dua bagian, bisakah anda melakukan itu untuk seseorang yang kita cintai

Adalah seorang pria miskin dari kasta terendah di India, Dia adalah Dashrath Manjini seorang pria yang membelah gunung dengan berbekal palu dan linggis selama 22 tahun, bisakah kita bayangkan 22 tahun hanya melakukan hal yang sebagian besar orang menganggap itu gila.

Dan memang itu gila dan konyol, aku pun begitu akan jika aku hidup di zaman manjini berada anggapan itu akan tetap sama gila dan konyol tapi hasil kerja keras selama 22 tahun itu membuahkan hasi, gunung yang memisahkan dua desa Atri dan Wazirganj itu berjarak 55 KM dan itu berubah menjadi 15km perjalanan ketika gunung itu dibelah.

Jika 22 tahun telah dihabiskan Dashrath Manjini untuk membelah gunung yang berdiri perkasa dan Apa yang bisa kita lakukakan selama 22 tahun untuk seorang yang kita cintai? menunggu si diia sejam keramas di salon aja udah bosannya minta ampun apalagi harus melakukan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu yang cukup lama

Tapi memang negeri india terkenal dengan cerita-cerita romantisnya mulai dari Jodha-Akbar,Taj Mahal yang di bangun berlapis emas untuk kuburan wanita yang di cintainya hingga seorang pria buruh miskin dari desa terpencil di india mempunyai kisah cinta yang perlu di ceritakan

Dashrath Manjini memang tidak terlalu dikenal di dunia bahkan di india di negeri dimana dia berasal pun hanya beberapa yang tahu tentang dia, namun kisah dia kini telah di kenal dunia dalam film  bollywood yang berjudul manjini the mountai man

Penasaran seperti apa film tentang Dashrath Manjini seorang pria dengan linggis dan palu untuk membelah gunung berikut ini reviewnya

Review Manjhi The Mountain Man

Review Manjhi The Mountain Man

Dasharth Manjini adalah seorang buruh miskin dari kasta terendah dari desa Gehlaur, Gaya, Negara Bagian Bihar, India. Ia mulai melakukan pekerjaan gilanya setelah kematian istri tercinta Falguni.

Falguni meninggal setelah terjatuh dari tebing ketika sedang mengantar makan untuk suaminya, sambil mengangkat falguni yang sedang kritis, Dashrath manjini berjalan melalui celah-celah gunung  sejauh 55 KM, sambil tergogopoh-gopoh manjhini naik turun gunung membawa falguni ke rumah sakit terdekat.

Namun ternyata takdir berkata lain, falguni harus pergi dan tak akan kembali lagi. setelah kematian falguni dashrath manjini tidak ingin hal yang sama terjadi untuk orang lain dengan berbekal palu dan linggis, dia mulai memahat, memecahkan, merobohkan bebatuan yang besar yang menghalangi orang untuk melewatinya

Selama pekerjaanya melakukakan itu, tak jarang umpatan dan cacian diterima olehnya bahkan ayahnya sendiri mengatakan dia gila karena harus menjual hewan ternaknya untuk membeli palu dan linggis, alat yang di gunakan untuk membelah gunung

Kini nama dashrath manjini telah dikenal dunia, kisah cintanya bahkan bisa di sejajarkan dengan kisah cinta yang lebih dulu populer di kalangan masyarakat.

Dasrath manjini meninggal di usia 73 tahun setelah mengidap kanker empedu di tahun 2007, namun sisa-sisa peninggalannya masih ada dan masih berfungsi hingga sekarang.

Official Thrailer Manjhi - The Mountain Man


Selasa, 25 September 2018

Film, Lelaki Timur Dan Imaji Yang Menghantui

Berbicara film dan orang timur itu agak aneh, tapi tak apalah, kita coba-coba sedikit mengulik tentang film dan orang timur. Dari beberapa hari jalan-jalan dengan beberapa orang belakangan ini, saya menemukan fakta bahwa, film punya daya pikat tersendiri bagi orang timur. Beberapa kali bercerita dengan mereka, beberapa kali pula saya terpukau bagaimana film yang dapat mengimaji benak orang-orang timur. Dan saya amat percaya bahwa tujuan film bukan hanya memberikan pesan-pesan rahasia (Cie, cie, cie, pesan rahasia nih ye  ) di dalam film itu sendiri atau pembelajaran berharga dari gambar yang disajikan film, melainkan juga, sadar atau tidak, film memberikan satu contoh untuk ditiru, untuk diceplak, diikuti, dijadikan panutan, terlebih lagi dengan sosok yang jadi idola di dalam film itu. Siapa sih yang tak terinspirasi buat jadi semacam yang ia sukai, terlebih idola di film?


Nah, berikut adalah tiga film dan pemain film yang telah membentuk imaji akan lelaki timur dibenak perempuan timur :

1. Sha Rukh Khan, Kuch-Kuch Hota Hai
Coba angkat tangan, perempuan mana yang tak mengenal lelaki India ini? Dengan kulit sawo matang, rambut sedikit bergelombang, hidung mancung dan tatap khas para famboyan, Saya pikir semua orang pasti mengenalnya dengan baik. Debutnya pada dekade akhir 90-an di film Kuch-Kuch Hota Hai merupakan pintu masuk bahwa seorang lelaki harus tampak periang, romantis dan agak sedikit jahil. Sha Rukh Khan mewakilkan semua hal tengik itu dalam film. Sepanjang 1998, lelaki homoris dan sedikit berani, jadi pilihan banyak perempuan. Degup jantung perempuan akan lebih kencang saat menonton Sha Rukh Khan dengan segala filmnya.

Untuk lelaki timur, semua itu tampaknya mudah-mudah saja: Periang, romantis dan agak sedikit jahil (berani), masih bisalah dituru-turu lelaki timur, dan saya pikir tak susah lelaki timur mencontohi si Garuk Khan, opsss, Sha Rukh Khan maksudnya. Heheehe… sebab sudah dari asalnya, lelaki timur itu homoris, romantis dan agak berani (meski gak semua juga sih, saya sedikit pemalu… wkwkwkwk)

2. Fahri, Ayat-Ayat Cinta
Memasuki tahun 2000-an, sekitar 2008-2009, di timur tiba-tiba memasuki periode ke-alim-an. Tipe lelaki ideal dalam imaji perempuan bergeser, dari rupawan ke-India-Indiaan menuju negeri asal, Indonesia, seperti dalam film Ayat-ayat cinta. Para perempuan merindukan sosok alim, cerdas dan kalem kayak Fahri bin Abdullah. Fahri jadi icon baru tentang lelaki. Semua serba berbau agama, relegius, alim, cerdas, kalem dan baik hati pada sesama. Saya pikir, kesuksesan film ini membawa angin baru tentang lelaki. Di kampus-kampus, banyak lelaki yang memposisikan dirinya seperti si Fahri, dan para perempuan suka berpikir hal yang sama dengan para lelaki: Mendambakan lelaki alim, cerdas... Bagi lelaki timur, untuk jadi semacam Fahri, masih bisalah, setidaknya, memakai songkok dan kemasjid seminggu sekali dan sholat lima waktu, bisa dilakukanlah. No problem.

3. Lee Min Ho, Dan Demam Korea.
Aih, sio mama sayang eee, sudah, saya gak kuat untuk jujur tentang film bahkan drama dari negeri Gingseng. Mmm… memasuki tahun 2010 hingga sekarang, ekspansi (wkwwkwk, ekspansi bahasanya, ckckckc) drama dan film Korea memasuki negeri di timur, negeri nan jauh di timur tiba-tiba mewabah film dan drama Korea. Dan kamu tahulah apa yang akan terjadi berikutnya. Bukan hanya film dan apa yang ditonton, tapi juga dampaknya adalah tipe lelaki ideal pun berubah dengan sangat radikal. Lelaki humoris dan alim yang merupakan sifat, berganti dengan tampang, face, wajah, para lelaki Korea yang merupakan hal fisik. Nah, kita yang lelaki timur bisa apa kalau sudah begini, bicara fisik? Kulit harus putih, bersih-mewangi, kemana-mana pake jas, dan seabrek embel-embelnyalah, yang tentu menyusahkan lelaki timur untuk mengikuti yang semacam ini. Yah, kamu bisa tahulah lelaki timur, bersih-mewangi masih bisalah (Mandi sehari 7 kali bisalah), kemana-mana pake Jas masih bisalah (Pinjam di tentangga), tapi soal kulit yang harus putih, itu rada susah. Kamu tahu sendirikan kulit lelaki timur itu hitam tapi manis, 11-12 dengan susu coklat kental.. wkwkwkw…

Untuk itulah, perihal nomor tiga ini, saya pikir masa-masa sulit untuk lelaki di timur. Mencontohi dan mengikuti lelaki Korea sama halnya mengikuti lari kuda dalam lomba uji lari. Sudahkah kamu beradu lari hari ini? Wkwkwk [ ]

Selasa, 28 Agustus 2018

Potret Lelaki Yang Patah Dalam Dua Novel Indonesia


Potret Lelaki Yang Patah Dalam Dua Novel IndonesiaLelaki sering dianggap sebagai makhluk yang tangguh, kuat dan selalu tampak maskulin dalam  anggapan banyak orang. Namun tak semua anggapan itu berlaku dalam novel Indonesia. Dua di antaranya yang akan saya ceritakan ini malah berbanding terbalik. Saya seperti menangkap bahwa lelaki dalam satu sisi memiliki hak untuk sekadar tak tampak kuat, tak cukup  tangguh dan tak cukup maskulin. Lelaki punya dunianya sendiri yang tentu berbeda dengan perempuan. Lelaki tak cukup piawai mengungkapkan kesedihannya dengan gamblang, tak cukup kuat membahasakan bahwa ia butuh teman curhat, atau menangis terseguk-seguk. Tak cukup. Itu sebabnya, saat saya membaca dua novel ini, saya menyadari bahwa dua novel ini dapat mewakili bahwa lelaki di satu sisi ia harus tampak seolah-olah kuat—namun di sisi lain ia pun jatuh tersungkur. Apalagi bila hal yang buatnnya jatuh itu adalah ihwal cinta-cintaan. Beh, siapa pula manusia yang dapat berkelit dari cinta?

Adalah Zainudin, sosok lelaki dalam novel Tenggelamnya Kapal Vander Wijck, dengan amat baik menggambarkan bagaimana sosok Zainudin begitu rapuh dan gerongi dihadapan seorang Hayati. Ia dengan malu-malu tapi mau, begitu mencintai Hayati. Semua yang membikin ia begitu gerogi itu seketika hancur lebur saat dikemudian hari, ia mendapat kabar bahwa Hayati menikah dengan orang lain. Zainudin terkapar tak berdaya di atas dipan seadanya. Berbulan-bulan, ia tak punya hasrat untuk hidup. Makan tak enak, minum pun jarang. Dalam tidur ia mengigau entah siang-entah pula malam memanggil-manggil nama Hayati. Yang ia bisa lakukan hanyalah uring-uringan di atas dipan. Hidup seolah kehilangan warna dan cahaya di dalam mata dan pikirannya.

Pada novel yang berbeda, Jiwa dalam novel Lelaki Yang Terakhir Menangis di Bumi, adalah penggambaran sosok lelaki yang serupa namun tak sama. Ia berbeda dengan Zainudin yang hanya terpaku pada sosok Hayati,  Jiwa berbeda. Setelah mendapatkan kenyataan bahwa Nanti yang begitu ia cintai menikah dengan orang lain, Batin Jiwa terguncang. Ia berusaha untuk berkelana menemukan perempuan lain yang bisa mengobati hatinya yang patah itu. Berkali-kali ia memacari perempuan lain, namun berkali-kali pula, luka yang dulu ditorehkan Nanti lebam membusuk di jantungnya. Perempuan-perempuan yang dipacarinya itu tak lebih dari pelarian-pelarian yang semu, dari satu kesemuan ke kesemuan yang lain. Jiwa tak sanggup mengganti dan menemukan sosok lain seperti Nanti, meski ada beberapa perempuan yang sama seperti Nanti, namun hal itu hanya menyadarkan ia pada sosok Nanti.

Pada dua lakon di atas, baik Zainudin maunpun Jiwa, adalah penggambaran sosok lelaki yang terlampau mencintai perempuan dan kandas di tengah jalan. Tragisnya, dua orang ini tenggelam dalam dunia kesenduan yang dalam. Beruntung, Zainudin memiliki teman seperti Bang Muluk. Lelaki slengean yang jadi teman baiknya itu. Bang Muluk membantu Zainudin untuk bangkit dari kubangan kesedihan. Namun sosok Jiwa berbeda, ia tak memiliki teman yang dapat membuatnya bangkit. Yang pada akhirnya, Zainudin hidup dan berjuang membangun masa depannya. Dan Jiwa mati membusuk dengan kenangannya. Dua lelaki yang patah dalam novel kita, novel Indonesia.

Kamu, ingin jadi Zainudin atau Jiwa? Semoga bukan keduanya, yah..