Jumat, 05 Oktober 2018

GIE, GUNUNG DAN SEPOTING PUISI

Ada tiga tipe mahasiswa yang harus kita ketahui, jauh sebelum kita bicara tentang Gie, Gunung Dan Sepotong Puisi. Tiga tipe ini semacam panduan sederhana yang akan memudahkan kita meramal apa dan bagaimana mereka di masa depan (Meski ramalan hanya punya Dilan yang merayu Milea: "Aku ramal, sebentar nanti, kita akan ketemu di kantin"). Pertama, mahasiswa kuda kepang; di mana, jenis mahasiswa ini adalah mahasiswa yang kuliah cuma buat datang dan dapat nilai bagus. Kuliah hanya terpaut soal, dapat nilai dan lekas lulus. Semua serba cepat, persis kuda kepang, greduk, greduk, gerduk... tipe ini akan sering kita temui dalam kehidupan dunia kampus dan kebanyakan dari mereka adalah calon PNS idaman bapak mantu. Mmm, tipe yang kedua (Untuk tidak banyak membuang waktu), mahasiswa organisasi dan politik. Jenis mahasiswa ini, sangat erat kaitannya dengan para vokalis band, eh maaf, vokalis jalanan, maksudnya, yang oriantasi hidupnya terpaut erat dengan microfon dan teriakan-teriakan yang konon menampung aspirasi kalangan penderita dan semacamnya, jargon andala: turunkan harga sembako, turunkan harga BBM, dan turunkan uang panae (Eh, yang terakhir itu belum. hehehe). Tipe ini adalah bakal calon politikus yang sudah bisa kita tebak nanti ada di kantor mana!. Dan tipe yang terakhir, adalah tipe yang akan kita bahas sekarang ini: Tipe mahasiswa liar. Agak kurang enak memang, saat saya harus menulis kata liar di akhir kata mahasiswa. Tapi liar di sini bisa diartikan, tak suka diatur. Liar sebab mereka membuat jarak antara mahasiswa Kupang (Kuda Kepang) atau mahasiswa Opik (Organisasi dan politik), dan Gie ada di dalam jenis mahasiswa liar, ini. Meski dalam banyak hal, Gie sendiri dapat digolongkan dalam tipe mahasiswa Opik (Organisasi dan Politik). Namun, ada satu fase akhirnya Gie harus memilih untuk menjadi mahasiswa Opik atau menjauh dari dunia yang berorientasi dengan politik. Dan Gie memilih gunung, bukan politik dan semacamnya. Gie menulis:

"Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna 
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan 
dan aku terima kau dalam keberadaanmu seperti kau terima daku" 

Saya pikir cukup cuap-cuapnya diprolog yang terlampau panjang ini. Karena inti tulisan ini ada di paragraf berikutnya, yang sebenarnya juga cuma berisi potongan puisi-puisi Gie. Hahaha...


Kecintaan Gie terhadap gunung, seperti kecintaan jomblo kepada kesepian. Dalam puisi-puisi Gie, gunung bisa jadi sebagai tempat tumpuan kerinduan yang tersimpan dengan rapat. Coba tengok bagaimana Gie menarasikan akan gunung dan kesepiannya itu:

"aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi 
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada hutanmu adalah misteri segala cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta" 

Aih, menggigil sekali sepotong puisi Gie itu. Saya kira, Gie sedang memasuki jurang-jurang kesepiannya saat menulis puisi. Kamu, apakah juga hendak menulis puisi saat di gunung? membayangkan kesepian paling dalam yang pernah dimiliki.

Saya suka puisi Gie. Puisi, saat Gie menjadikan Gunung sebagai penggambaran kesepian. Gie, Gunung dan Sepotong Puisi.

Berikut saya beri, kumpulan lengkap puisinya, semoga bermanfaat:

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966

Sabtu, 29 September 2018

Arti Hidup Dalam Film Truman Show

"Setiap kita dapat satu peranan ..."
"Yang harus dia mainkan..."
"Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura..."
"Mengapa kita bersandiwara..."

Penggalan lirik di atas mungkin sangat pantas untuk dibandingkan dengan kehidupan kita sebagai manusia. Yang layaknya sebuah film, punya peran dan skrip yang kita jalani masing-masing. Dalam hidup, kita dipaksa untuk melakukan berbagai macam keputusan penting untuk merubah cerita kita entah menjadi baik atau menjadi buruk berdasarkan hati nurani dan pertimbangan yang logis. Oleh karena itu bisa dibilang hidup dan film punya persamaan yang tidak bisa kita pisahkan.

Berbicara mengenai 2 hal tersebut mengingatkan saya akan salah satu film yang dibintangi aktor favorit saya yaitu Jim Carrey. Kita seringkali mengenal Jim lewat film-film komedi yang mengocok perut seperti Ace Ventura,The Mask atau Yes Man mekipun begitu bukan berarti Jim tidak mampu memainkan emosi kita lewat film-film drama atau sentimentil. Bisa dibilang Jim adalah satu aktor berbakat yang pernah hollywood punya dalam dekade 90an.


Ada 1 filmnya yang sangat menarik hati saya dan berkaitan betul dengan hidup kita masing-masing. Film itu berjudul The Truman Show. Truman (diperankan Jim Carrey) di sini adalah nama seorang pria kantoran biasa yang dalam kehidupan sehari-harinya memiliki istri yang baik dan teman-teman kerja yang cukup suportif padanya. Sejak kecil Truman memiliki banyak mimpi yang besar salah satunya ingin menemukan tempat atau benua baru yang belum diexplore, sebelum mimpinya sempat terwujud guru taman kanak-kanaknya menunjukkan peta bahwa tidak ada yang bisa dicari lagi hingga pupuslah harapan Truman untuk menjelajah dunia. Tidak lama setelah kejadian itu ayah Truman pun ditemukan meninggal saat berlayar hingga membuat Truman mengubur dalam-dalam impiannya untuk sementara waktu.

Beranjak dewasa Truman pun menjalani hidup layaknya orang lain di pulau itu. Pulau bernama Seahaven dikelilingi oleh lautan sehingga untuk menuju kota lain sudah pasti harus menggunakan jalur pesawat atau laut sedangkan kita tahu sendiri bahwa Truman sangat trauma dengan namanya laut semenjak ayahnya meninggal. Menderita dengan rutinitas yang sama tiap harinya. Truman ingat seorang wanita yang pernah dia pacari dulu saat sekolah dan sebuah tempat bernama Fiji. Berniat libur kesana Si Truman malah selalu apes saat berkunjung ke agen perjalanan. entah karena abis tiket,cuaca buruk, masalah operasional dll. hal ini terjadi bukan hanya untuk perjalanan ke Fiji saja tapi hampir semua kota di daerah lain pun sama, Aneh bukan?.

(Truman Mengumpulkan Kepingan Wajah Membentuk Rupa Sylvia)

Keanehan ini sering terjadi, bukan hanya sekali tapi berulang-ulang. Hingga membuat Truman curiga dan mengamati warga kota setempat, kemudian menemui bahwa masyarakat disana hanya melakukan kegiatan yang sama dalam beberapa menit sekali. Contohnya tukang pos yang mengeliling kompleks rumahnya atau pria yang mengajak jalan-jalan anjingnya pada pagi hari terus menerus. truman merasa kehidupannya sedang diawasi. Kenyataannya Truman mungkin adalah Pria paling terkenal di seluruh dunia karena segala aktivitas dan tindak tanduknya direkam 24 jam kemudian disiarkan di TV sebagai reality show bernama The Truman Show.

Pria di balik hidup Truman adalah seorang produser sekaligus sutradara bernama Christoff. Christoff membangun sebuah kota buatan yang berada dalam kubah besar di hollwood. menempatkan Beribu-ribu kamera dan para aktor disana. Truman sendiri sejak bayi telah diadopsi oleh pihak TV untuk direkam kehidupannya. segala hal yang terjadi dalam kehidupan Truman sudah direkayasa. ayah yang meninggal, kehidupan rumah tangganya dan karirnya hanyalah drama untuk menaikkan rating serial itu. Christoff berhasil menyiarkan acara ini dalam kurun waktu 29 tahun namun di musim ke 30nya Truman menyadari bahwa ada banyak hal yang harus dia temui dan jelajahi. Truman sendiri walau sudah menikah sebenarnya masih mengingat wanita yang dia cintai dulu saat kuliah bernama silvia. wanita yang secara kejam harus disingkirkan Christoff agar tidak merusak skrip yang telah dia tulis.

(Truman Menemukan Kebenaran )

Untuk menemui Silvia tentunya hal yang pertama harus dihadapi truman adalah mengatasi rasa takutnya berlayar di laut menuju dunia baru diluar sana. Truman dihalangi ombak buatan Christoff ditengah laut dengan harapan Truman takut dan kembali namun tekadnya telah kuat hingga akhirnya Truman berhasil menemukan  ujung tempat itu. Sebuah tembok dengan latar belakang langit. ada Tangga dan pintu bertuliskan EXIT disitu. di akhir film Christoff sempat berkata pada Truman lewat speaker besar yang diletakkan dipuncak kubah sebelum Truman melangkah keluar "kau takut, makanya kau tidak akan pergi". Kata-kata Christoff seakan-akan memiliki arti bahwa dia memberikan perlindungan dan stabilitas hidup kepada Truman dibanding apapun yang akan Truman temui di luar. Truman pun tersenyum dan tetap melangkah keluar sembari lagu kemenangan diputar mengiringi ending film ini.

Film ini menurut saya betul-betul sangat menggambarkan kehidupan kita sekarang. di mana kebebasan untuk bermimpi telah dibatasi dengan hal-hal umum dalam bermasyarakat sekarang. hidup menjalani rutinitas yang sama lebih diinginkan banyak orang ketimbang mengatasi rasa takutnya mencoba hal baru yang belum dilakukan sebelumnya. Christoff sang sutradara disini bisa saya analogikan sebagai society atau pemikiran dan ide" yang ada dalam kehidupan bermasyarakat dan Truman adalah simbol kebebasan atau bagaimana sebaiknya setiap individu bertindak. Mengapa kita harus bermain aman mengikuti apa yang sebagian besar orang katakan ketika mereka bahkan tidak punya kamera dalam otak kita untuk merasakan apa yang kita rasakan?.

Lucunya adalah apa yang terjadi pada Film ini dapat terjadi ke siapa pun. Kita semua hidup mengikuti pola yang sama dalam kehidupan sosial dan terjebak dalam pemikiran kita sendiri tentang hidup yang benar dan bahagia itu seperti apa.  Ayolah Guys kita adalah bintang dalam dunia kita dan  harus jadi sutradara untuk cerita kita. Jangan biarkan impian kita dikubur dengan pemahaman orang -orang sekitar untuk menilai mana yang baik dan buruk untuk kita. Jadilah seperti Truman, atasi
ketakutan kalian dan hadapilah segala kemungkinan yang akan terjadi, Itulah namanya Hidup bro. :)

Jumat, 28 September 2018

Di antara Dasrath Manjini, Gunung, Dan Cinta Yang Hilang

Jika cinta di artikan sebagai pengorbanan? maka bisakah aku bertanya ? seberapa besar pengorbanan yang kita lakukan untuk seseorang yang kita cintai? memberikan dia waktu yang kita punya, memberikan dia harta atau membantu dia sekuat tenaga yang kita punya?

Tapi ! memang ada yang harus kita korbankan untuk mendapatkan cinta yang kita inginkan, salah satunya adalah dengan membelah gunung menjadi dua bagian, bisakah anda melakukan itu untuk seseorang yang kita cintai

Adalah seorang pria miskin dari kasta terendah di India, Dia adalah Dashrath Manjini seorang pria yang membelah gunung dengan berbekal palu dan linggis selama 22 tahun, bisakah kita bayangkan 22 tahun hanya melakukan hal yang sebagian besar orang menganggap itu gila.

Dan memang itu gila dan konyol, aku pun begitu akan jika aku hidup di zaman manjini berada anggapan itu akan tetap sama gila dan konyol tapi hasil kerja keras selama 22 tahun itu membuahkan hasi, gunung yang memisahkan dua desa Atri dan Wazirganj itu berjarak 55 KM dan itu berubah menjadi 15km perjalanan ketika gunung itu dibelah.

Jika 22 tahun telah dihabiskan Dashrath Manjini untuk membelah gunung yang berdiri perkasa dan Apa yang bisa kita lakukakan selama 22 tahun untuk seorang yang kita cintai? menunggu si diia sejam keramas di salon aja udah bosannya minta ampun apalagi harus melakukan pekerjaan berat yang membutuhkan waktu yang cukup lama

Tapi memang negeri india terkenal dengan cerita-cerita romantisnya mulai dari Jodha-Akbar,Taj Mahal yang di bangun berlapis emas untuk kuburan wanita yang di cintainya hingga seorang pria buruh miskin dari desa terpencil di india mempunyai kisah cinta yang perlu di ceritakan

Dashrath Manjini memang tidak terlalu dikenal di dunia bahkan di india di negeri dimana dia berasal pun hanya beberapa yang tahu tentang dia, namun kisah dia kini telah di kenal dunia dalam film  bollywood yang berjudul manjini the mountai man

Penasaran seperti apa film tentang Dashrath Manjini seorang pria dengan linggis dan palu untuk membelah gunung berikut ini reviewnya

Review Manjhi The Mountain Man

Review Manjhi The Mountain Man

Dasharth Manjini adalah seorang buruh miskin dari kasta terendah dari desa Gehlaur, Gaya, Negara Bagian Bihar, India. Ia mulai melakukan pekerjaan gilanya setelah kematian istri tercinta Falguni.

Falguni meninggal setelah terjatuh dari tebing ketika sedang mengantar makan untuk suaminya, sambil mengangkat falguni yang sedang kritis, Dashrath manjini berjalan melalui celah-celah gunung  sejauh 55 KM, sambil tergogopoh-gopoh manjhini naik turun gunung membawa falguni ke rumah sakit terdekat.

Namun ternyata takdir berkata lain, falguni harus pergi dan tak akan kembali lagi. setelah kematian falguni dashrath manjini tidak ingin hal yang sama terjadi untuk orang lain dengan berbekal palu dan linggis, dia mulai memahat, memecahkan, merobohkan bebatuan yang besar yang menghalangi orang untuk melewatinya

Selama pekerjaanya melakukakan itu, tak jarang umpatan dan cacian diterima olehnya bahkan ayahnya sendiri mengatakan dia gila karena harus menjual hewan ternaknya untuk membeli palu dan linggis, alat yang di gunakan untuk membelah gunung

Kini nama dashrath manjini telah dikenal dunia, kisah cintanya bahkan bisa di sejajarkan dengan kisah cinta yang lebih dulu populer di kalangan masyarakat.

Dasrath manjini meninggal di usia 73 tahun setelah mengidap kanker empedu di tahun 2007, namun sisa-sisa peninggalannya masih ada dan masih berfungsi hingga sekarang.

Official Thrailer Manjhi - The Mountain Man


Selasa, 25 September 2018

Film, Lelaki Timur Dan Imaji Yang Menghantui

Berbicara film dan orang timur itu agak aneh, tapi tak apalah, kita coba-coba sedikit mengulik tentang film dan orang timur. Dari beberapa hari jalan-jalan dengan beberapa orang belakangan ini, saya menemukan fakta bahwa, film punya daya pikat tersendiri bagi orang timur. Beberapa kali bercerita dengan mereka, beberapa kali pula saya terpukau bagaimana film yang dapat mengimaji benak orang-orang timur. Dan saya amat percaya bahwa tujuan film bukan hanya memberikan pesan-pesan rahasia (Cie, cie, cie, pesan rahasia nih ye  ) di dalam film itu sendiri atau pembelajaran berharga dari gambar yang disajikan film, melainkan juga, sadar atau tidak, film memberikan satu contoh untuk ditiru, untuk diceplak, diikuti, dijadikan panutan, terlebih lagi dengan sosok yang jadi idola di dalam film itu. Siapa sih yang tak terinspirasi buat jadi semacam yang ia sukai, terlebih idola di film?


Nah, berikut adalah tiga film dan pemain film yang telah membentuk imaji akan lelaki timur dibenak perempuan timur :

1. Sha Rukh Khan, Kuch-Kuch Hota Hai
Coba angkat tangan, perempuan mana yang tak mengenal lelaki India ini? Dengan kulit sawo matang, rambut sedikit bergelombang, hidung mancung dan tatap khas para famboyan, Saya pikir semua orang pasti mengenalnya dengan baik. Debutnya pada dekade akhir 90-an di film Kuch-Kuch Hota Hai merupakan pintu masuk bahwa seorang lelaki harus tampak periang, romantis dan agak sedikit jahil. Sha Rukh Khan mewakilkan semua hal tengik itu dalam film. Sepanjang 1998, lelaki homoris dan sedikit berani, jadi pilihan banyak perempuan. Degup jantung perempuan akan lebih kencang saat menonton Sha Rukh Khan dengan segala filmnya.

Untuk lelaki timur, semua itu tampaknya mudah-mudah saja: Periang, romantis dan agak sedikit jahil (berani), masih bisalah dituru-turu lelaki timur, dan saya pikir tak susah lelaki timur mencontohi si Garuk Khan, opsss, Sha Rukh Khan maksudnya. Heheehe… sebab sudah dari asalnya, lelaki timur itu homoris, romantis dan agak berani (meski gak semua juga sih, saya sedikit pemalu… wkwkwkwk)

2. Fahri, Ayat-Ayat Cinta
Memasuki tahun 2000-an, sekitar 2008-2009, di timur tiba-tiba memasuki periode ke-alim-an. Tipe lelaki ideal dalam imaji perempuan bergeser, dari rupawan ke-India-Indiaan menuju negeri asal, Indonesia, seperti dalam film Ayat-ayat cinta. Para perempuan merindukan sosok alim, cerdas dan kalem kayak Fahri bin Abdullah. Fahri jadi icon baru tentang lelaki. Semua serba berbau agama, relegius, alim, cerdas, kalem dan baik hati pada sesama. Saya pikir, kesuksesan film ini membawa angin baru tentang lelaki. Di kampus-kampus, banyak lelaki yang memposisikan dirinya seperti si Fahri, dan para perempuan suka berpikir hal yang sama dengan para lelaki: Mendambakan lelaki alim, cerdas... Bagi lelaki timur, untuk jadi semacam Fahri, masih bisalah, setidaknya, memakai songkok dan kemasjid seminggu sekali dan sholat lima waktu, bisa dilakukanlah. No problem.

3. Lee Min Ho, Dan Demam Korea.
Aih, sio mama sayang eee, sudah, saya gak kuat untuk jujur tentang film bahkan drama dari negeri Gingseng. Mmm… memasuki tahun 2010 hingga sekarang, ekspansi (wkwwkwk, ekspansi bahasanya, ckckckc) drama dan film Korea memasuki negeri di timur, negeri nan jauh di timur tiba-tiba mewabah film dan drama Korea. Dan kamu tahulah apa yang akan terjadi berikutnya. Bukan hanya film dan apa yang ditonton, tapi juga dampaknya adalah tipe lelaki ideal pun berubah dengan sangat radikal. Lelaki humoris dan alim yang merupakan sifat, berganti dengan tampang, face, wajah, para lelaki Korea yang merupakan hal fisik. Nah, kita yang lelaki timur bisa apa kalau sudah begini, bicara fisik? Kulit harus putih, bersih-mewangi, kemana-mana pake jas, dan seabrek embel-embelnyalah, yang tentu menyusahkan lelaki timur untuk mengikuti yang semacam ini. Yah, kamu bisa tahulah lelaki timur, bersih-mewangi masih bisalah (Mandi sehari 7 kali bisalah), kemana-mana pake Jas masih bisalah (Pinjam di tentangga), tapi soal kulit yang harus putih, itu rada susah. Kamu tahu sendirikan kulit lelaki timur itu hitam tapi manis, 11-12 dengan susu coklat kental.. wkwkwkw…

Untuk itulah, perihal nomor tiga ini, saya pikir masa-masa sulit untuk lelaki di timur. Mencontohi dan mengikuti lelaki Korea sama halnya mengikuti lari kuda dalam lomba uji lari. Sudahkah kamu beradu lari hari ini? Wkwkwk [ ]

Sabtu, 22 September 2018

Perempuan di Bibir Pantai


Perempuan di Bibir Pantai
Adalah Kasieh (bacanya Kasieh ya bukan kasih), salah satu desa yang ada di kecamatan Taniwel, Seram Bagin Barat, yang sering sekali disebut dengan nama kampung nelayan. Mengapa? Karena dari 12 desa yang ada di kecamatan ini hanya ada dua yakni Kasieh dan Lisabata yang memiliki paling banyak orang yang mengapungkan hidup mereka di laut nan biru. Bagi orang-orang Kasieh, melaut sudah menjadi bagian dari hidup mereka, sama seperti saya dan makanan yang sudah tak dapat di lepas pisahkan.


Walaupun Kasieh merupakan desa nelayan dan dengan prinsip emansipasi yang dijunjung tinggi seperti sekarang ini, bukan berarti perempuan-perempuan di Kasieh bertukar kewajiban dengan lelaki-lelakinya. Jangan berpikir kalian akan menemukan “nelayanita” disini. Oh, Tidak!  akan tetapi, kalian akan menemukan  beberapa tipe perempuan Kasieh yang berperan dalam hidup nelayan. Mungkin kalian dapat mengenal dan belajar dari para perempuan disini:


1.    Perempuan yang setia menanti kedatangan suaminya
Perempuan di Bibir Pantai
Perempuan di Bibir Pantai

Perempuan tipe ini adalah yang paling layak dicontoh menurut saya. Biasanya mereka adalah istri-istri dari nelayan. Mereka dengan sangat setia menanti kepulangan suami mereka, bukan kepulangan saja melainkan pula ketika nelayan-nelayan ini berangkat pada pagi hari  (Antara jam 3 atau 4 pagi), mereka setia menemani hanya sekedar membawakan bekal, peralatan, hingga mendoakan suaminya pulang dengan selamat dan membawa pulang hasil yang bagus. Oleh karena waktu kepulangan nelayan yang tak tentu, maka tak tanggung-tanggung dari siang mereka sudah berada di pantai dan akan menunggu sampai suaminya pulang walau malam sekalipun sambil bersosialisasi dengan istri nelayan lainnya membahas dari kebutuhan rumah, anak sekolah, hingga hasil tangkapan suami mereka. Hal yang paling saya kagumi dari mereka adalah, mereka sangat mengenal suami mereka, bahkan suami orang pun mereka kenali. Begitu ada perahu nelayan yang  terlihat mendekat ke bibir pantai, mereka para perempuan itu sudah tahu apakah itu suami mereka atau bukan, maka dengan segera mereka menyiapkan “kayu langi” dan bersiap bantu mendorong perahu suami mereka. Hebat bukan? Mungkin pada saat mendorong inilah emansipasinya berlaku.
Perempuan di Bibir Pantai

Selain itu antara nelayan dan istrinya seakan sudah ada pembagian tugas yang sangat jelas. Jika nelayan bertanggung jawab penuh ketika berada di lautan, maka ketika berada di pantai seakan peran itu digantikan oleh sang istri. Bak raja, begitu sampai, biasanya nelayan akan lansgung duduk beristirahat sambil merekok dan sang istrinyalah yang terlihat sibuk ke sana-kemari mengeluarkan ikan-ikan hasil tangkapan si bapak dan menentukan akan dijual ke mana, kemudian membantu membersihkan perahu suaminya, membawa pulang perelengkapan memancing dan tempat bekal yang sudah habis isinya, hingga memberikan senyuman jika suami mereka pulang dengan hasil yang kurang atau bahkan tanpa hasil sekalipun. Dan sekali lagi, hebat bukan? Mungkin dalam hati mereka kecewa dengan hasil tangkapan suami mereka yang terkadang kecil, mengingat biaya untuk melaut yang tak murah, namun dihadapan suaminya, mereka tak harus mengeluh (Apalagi harus curhat di Insragram seperti emak-emak zaman now, itu), tak ada cacian, tak ada wajah marah yang mereka tunjukan (Saya tidak tahu kalau dirumah ya!) . Sepertinya mereka sudah cukup bersyukur dengan kepulangan suaminya, biar besok bisa pi lai too..hehehe
Perempuan di Bibir Pantai
jibu-jibu


2. Perempuan yang menanti kedatangan bukan kepulangan

Jibu-jibu atau yang kalau di Ambon lebih dikenal dengan nama Papalele ini adalah mereka yang membeli ikan dari nelayan untuk dijual lagi. Memang jibu-jibu bukan hanya perempuan tetapi di Kasieh sini banyak dari mereka yang perempuan. Walupun terkadang yang menjual ikan adalah suami mereka tetapi para ibu-ibulah yang sering berada di bibir pantai untuk membeli ikan dari nelayan. Karena namanya (j)ibu-(j)ibu kali ya?. Nah, jika tipe perempuan pertama adalah istri nelayan, maka Jibu-Jibu biasanya bersuamikan orang-orang pebisnis yang tak punya keahlian maupun perlengkapan untuk melaut. Namun banyak juga dari para jibu-jibu ini  yang sudah tak bersuami lagi. Jika istri nelayan duduk di pantai menunggu suaminya pulang, mereka ini sering bersama suami mereka di pantai menunggu suami orang pulang, romantis bukan? duduk berdua, memandang laut dan ombak yang saling bersekutu, aih, Jomblo pasti Baper, hehehe.  
Dan lebih hebatnya lagi, jika yang para istri nelayan hanya menunggu suaminya seorang, mereka ini menunggu semua suami orang (baca: Nelayan) untuk pulang. Mereka rela berjalan ke sana-kemari menghampri setiap nelayan hanya demi mendapatkan ikan untuk dibeli. Biasanya perempuan-perempuan ini akan duduk bersama dengan istri-istri nelayan sekedar bersosialisasi atau curhat atau mungkin juga dengan misi untuk membangun relasi agar para istri ini mau menjual ikannya pada mereka. Salah satu sosialisasi yang cukup produktif, bukan?


3.    Bakal calon perempuan Kasieh
Perempuan di Bibir Pantai

Kalau dua tipe perempuan sebelumnya menghabiskan waktu mereka dengan tujuan yang jelas. Maka tipe perempuan ini adalah mereka yang menghabiskan waktu di pantai hanya untuk mendapatkan kesenangan yang jelas. Mereka ini adalah anak-anak kecil yang suka sekali berada di pantai. Sepertinya untuk mendapatkan kesenangan, bagi mereka bukanlah hal sulit, tak perlu hal mewah atau barang mahal (Apalagi gawai 7 juta yang dipakai cuma buat main game online) hanya bermodalkan panci dan botol bekas, batu dan daun-daun pohon, bisa mereka jadikan bahan untuk bermain. Adapula dari mereka yang
Perempuan di Bibir Pantai
menjajakan jualan ibunya seketika terlupakan saat bertemu dan bergabung dengan teman mereka yang sedang bermain, seakan tak perduli mau terjual habis atau tidak, bahkan ada yang nekat memakan jualannya sendiri ketika lelah atau haus setelah bermain. Tentu dengan resiko akan dimarahi bila nanti pulang. But that is life, no?? take risk, enjoy first. Banyak sekali permainan yang sering dimainkan, seperti : Benteng, boi (anak Ambon jaman old pasti tau), sepak bola,  hingga permainan yang saya tiak tau apa namanya. Biasanya setelah lelah bermain mereka dengan tanpa pikir panjang langsung menjatuhkan diri ke dalam gempuran ombak yang tak pernah lelah datang dan pergi. Kebanyakan dari perempuan-perempuan ini juga merupakan anak nelayan yang akan langsung berlari ke tempat mendaratnya perahu ayah mereka. Sekadar melihat hasil keringat ayahnya atapun membantu melakukan hal-hal yang dilakukan ibu mereka.

Well, saya pun adalah wanita yang suka sekali berada di bibir pantai Kasieh, walaupun harus menanggung resiko kulit yang sudah hitam ini, menjadi lebih hitam lagi. Tak apa toh cuma kulit. Bagi saya pantai memang selalu punya cerita, entah mengapa semuanya terlihat indah jika berada di pantai, walaupun saya tak punya siapa-siapa yang saya tunggu layaknya para ibu-ibu di sini. Tapi saya punya teman-teman kecil yang selalu mau saja jika saya menawarkan diri untuk ikut bermain (biasanya saya selalu jadi “ana bawang”  Karena paling besar sendiri, hehehe  )


Semua orang punya tanggung jawab dan tujuan mereka masing-masing, tak mengenal laki-laki atau perempuan. Saling menghargai dan mempercayai mungkin jalan paling baik. Dan menurut saya, lelaki yang baik adalah lelaki yang tak menghalangi dan mempercayai wanitanya.

Salam,

Jalilss, masih Perempuan penikmat jalan.
Perempuan di Bibir Pantai
sunrise di Kasieh